Wednesday, April 23, 2014

Cetak Cetak

Expectorant

November 15, 2010 by windhi kresnawati · Leave a Comment 

Expectorant sering di resepkan oleh dokter kepada pasien dengan gangguan batuk tanpa disertai lendir atau batuk kering. Obat ini bekerja memicu secara tidak langsung serat saraf vagal efferent, hingga kelenjar bronchial, yang mengakibatkan meningjatnya sekresi kelenjar bronchial. Karena stimulasi vagal juga mengiritasi mukosa lambung, maka apabila diberikan dalam jumlah besar obat seperti Guaifenasin, Ipepac, Terpin Hydrate dan ammonium chloride, dapat menimbulkan rasa mual dan muntah. Potasium Iodida juga akan berperan sebagai bahan yang bekerja sebagai mukolitik dengan memecahkan mukoprotein dan memicu aktivitas adanya silia atau bulu pada saluran pernaasan.

Expectoran umumnya di jual dalam bentuk yang telah dikombinasi dengan jenis decongestan, antihistamin, bronkodilator dan antitusif. Walaupun expectorant cukup dikenal oleh pasien dan beberapa dokter, banyak dokter yang masih meragukan efektivitas, dan hal ini di dukung oleh suatu penelitian yang menunjukkan sedikit kegunaan dari obat ini. Menurut suatu penilaian yang cukup tajam, expectorant, agar dapat dipertimbangkan kegunaannya  sebaiknya bukan hanya menghilangkan lendir, namun juga dapat  mempercepat proses penyembuhan pasien.

Suatu penelitian yang dilakukan secara acak, pemberian guaifensin sebagai expectorant untuk orang berusia sekitar 65 tahun, memiliki kekhususan tersendiri. Dengan kata lain, harus diperhatikan dengan baik. Dilaporkan bahwa, tidak ada perubahan kekentalan dari dahak atau terhadap batuk itu sendiri. Tidak ada penelitian yang telah di sampaikan kepada public, mengenai penggunaan expectorant pada anak-anak.

Expectoran

Obat untuk golongan ini yang paling banyak digunakan adalah Guaifenesin. Expectorant bertujuan untuk mengencerkan dahak sehingga mudah di keluarkan melalui saluran pernapasan. Penelitian terhadap penggunaan guaifenesin pada orang dewasa tidak memberikan perubahan dalam kualitas dahak maupun jumlah, ataupun dalam frekuensi atau keseringan batuk, walaupun pasien melihat bahwa terjadi penurunan kekentalan lendir dan kuantitas. Tidak terbukti adanya keuntungan kepada anak-anak ketika menggunakan obat ini.

Efek Samping Expectorant

Respon fisiologis atau normal yang ditimbullkan oleh expectorant akan memepengaruhi kondisi keseluruhan seseorang, keadaan cairan tubuh, kondisi saluran pernapasan, dan efek yang ditimbulkan oleh obat lain yang diminum bersamaan dengan expectorant. Dalam dosis yang besar, akan mengiritasi mukosa/permikaan saluran pencernaan dan dapat menimbulkan rasa mual, muntah, angioedema (pembengkakan pada jaringan pada daerah wajah, mulut) atau pembengkakan paru paru, pada beberapa orang yang sensitive. Ketika iodide diserap pada air ludah dan kelenjar air mata sama seperti sel mucus, pengenceran lendir dapat berhubungan dengan rhinorrhea (hidung berair), air liur, dan air mata.

Amoniam Chlorida di ubah menjadi urea di hepar, dan menyebabkan asidosis metabolic dan dieresis (proses dimana terjadi pengeluaran air kencing berlebih) yang ringan-sedang.  Sedangkan dalam dosis yang besar, dapat menimbulkan asidosis metabolic.

Beberapa bahan digunakan sebagai expectorant potensial berbahaya dan sebaiknya tidak di berikan kepada anak-anak. Chloroform merupakan salah satu yang cukup luas digunakan sebagai bahan pembuat obat batuk sirup dan produk farmasi yang lain, yang mana bahan tersebut telah di larang penggunaanya oleh Negara-negara besar, yang potensial menimbulkan hepatotoksik dan carcinogenic. Camphor merupakan racun, dan tidak boleh di telan.

Kesimpulan

Penambahan expectorant dengan komposisi yang aman pada sirup untuk meredakan batuk, tidak terbukti keuntungannya pada anak-anak.

Obat Mukolitik.

Obat yang masuk kedalam kelompok Mukolitik, akan bekerja dalam memecahkan rantai sulfhydryl dan secara langsung akan mengencerkan dahak. Sediaan obat mukolitik, biasanya diberikan langsung diminum atau dengan di hirup oleh beberapa orang yang memiliki gangguan saluran pernapasan yang bersifat kronik, yang ditandai dengan produksi dahak yang berlebih, seperti Cystic Fibrosis dan Bronkhitis Kronik. Walaupun obat jenis mukolitik akan mempengaruhi kekentalan dahak, obat ini juga dapat menimbulkan sugest dari pasien. Sehingga hal ini akan mempengaruhi evaluasi terhadap fungsi pernapasan atau fungsi paru-paru.

Tidak ditemukan adanya penelitian yang di umumkan mengenai obat mukolitik yang bekerja pada anak-anak di bandingkan dengan pemberian obat yang sama kepada orang dewasa.

Efek Samping Obat Mukolitik

Efek samping yang telah di laporkan setelah obat tersebut diberikan secara langsung diminum meliputi spasme bronkus (bronkospasm), gangguan saluran pencernaan, dan demam. Beberapa antibiotika seperti Ampicillin, Erythromicyn, dan tetracycline secara fisik tidak dapat diminum secara bersamaan, atau dapat hilang efeknya apabila diminum bersama dengan obat mukolitik (acetylsistine).

Kesimpulan

Ketika terapi ini dipilih sebagai mukolitik yang dapat memberikan perbaikan keluhan kepada mereka yang mengalami penyakit gangguan pernapasan kronik, tidak ada data yang mendukung penggunaan obat tersebut pada anak-anak dengan penyakit saluran pernapasan akut, seperti pada common cold.  (OL)

Sumber : WHO, AAP

Share on Facebook


*