Monday, November 24, 2014

Cetak Cetak

Pentingnya Skrining Universal Gangguan Pendengaran Pada Bayi

February 28, 2012 by admin · Leave a Comment 

Gangguan pendengaran (hearing loss) adalah salah satu kelainan mayor yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir. Di Amerika, persentase gangguan pendengaran pada bayi baru lahir adalah sekitar 0,1 – 0,3% atau 1 – 3 setiap 1000 bayi baru lahir. Pada bayi yang pernah mendapatkan perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau ruang perawatan intensif bayi baru lahir, persentase gangguan pendengaran meningkat menjadi 2 – 4 %.

Permasalahan akibat gangguan pendengaran tidaklah ringan.  Gangguan pendengaran dapat menyebabkan berbagai gangguan perkembangan seperti gangguan bicara dan bahasa, adaptasi personal-sosial, kemampuan akademik yang kurang, perkembangan kognitif, dan emosional.

Upaya skrining  gangguan pendengaran sangatlah penting. Deteksi dini gangguan pendengaran dan dilanjutkan dengan penanganan yang tepat dapat mencegah dampak gangguan pendengaran.

Skrining Gangguan Pendengaran Berdasarkan Faktor Risiko  “Saja” Tidaklah Cukup

Sebagian  anak dengan gangguan pendengaran sebetulnya dapat diidentifikasi berdasarkan penilaian faktor risiko. Berbagai faktor risiko gangguan pendengaran pada bayi dan anak dapat dilihat di tabel. Setiap bayi atau anak sebaiknya dilakukan skrining faktor risiko gangguan pendengaran. Apabila ditemukan  1 atau lebih faktor risiko, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Tabel 1. Faktor Risiko Tinggi Gangguan Pendengaran

Checklist indikator risiko tinggi gangguan pendengaran pada anak usia 0 hari – 24 bulan.
Usia 0 -28 hari (usia ini disebut juga newborn atau neonatus)

-           Riwayat tuli/gangguan pendengaran sensorineural (sensorineural hearing loss atau SNHL) di dalam keluarga, yang diduga kongenital

-           Infeksi intra-uterus (di dalam kandungan) yang berkaitan dg SNHL (contoh : toksoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes, sifilis)

-           Anomali (kelainan anatomi atau bentuk tubuh) di telinga atau wajah

-           Hiperbilirubinemia (bayi kuning) yang memerlukan transfusi tukar

-           Berat lahir kurang dari 1500 gram

-           Meningitis bakterialis

-           Skor Apgar rendah: 0 – 3 pada menit ke-5, 0 – 6 pada menit ke-10

-           Distres pernapasan (contoh : aspirasi mekonium)

-           Mendapatkan ventilator (alat bantu napas) lebih dari 10 hari

-           Mendapat terapi yang mempunyai efek samping (ototoksik atau merusak fungsi pendengaran; seperti gentamisin) selama lebih dari 5 hari atau diberikan bersama obat golongan loop diuretics.

-           Cacat fisik atau stigmata lain yang berkaitan dengan sindroma tertentu dan kelainan SNHL termasuk bagian dari sindroma tersebut (seperti sindroma Down, Sindroma Waardenburg)

Usia 29 hari – 24 bulan

-           Kecurigaan orang tua akan adanya gangguan pendengaran, bicara, bahasa dan atau keterlambatan perkembangan.

-           Adanya salah satu faktor risiko pada neonatus seperti di atas

-           Otitis media efusi (OME) berulang atau persisten selama lebih dari 3 bulan

-           Cedera kepala dengan fraktur (patah) tulang temporal

-           Riwayat infeksi yang berkaitan dengan SNHL (seperti meningitis, mumps, campak)

-           Penyakit neurodegeneratif (seperti sindroma Hunter) atau penyakit demielinisasi (seperti ataksia Friedreich, sindroma Charcot-Marie-Tooth)

Sumber. Joint Committee on Infant Hearing. Year 2000 position statement : principles and guidelines for early hearing detenction and intervention. Pediatrics. 2000;106;798-817.

Skrining faktor risiko tersebut bermanfaat dalam mendeteksi gangguan pendengaran pada anak. Namun, penelitian ternyata  menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% dari semua anak dengan gangguan pendengaran yang  berhasil diidentifikasi dengan metode skrining faktor risiko.  Penelitian yang berbeda juga memberikan hasil yang kurang lebih sama, yaitu sekitar 19 – 42% anak dengan gangguan pendengaran dapat tidak terdeteksi.

Alasan Pentingnya Skrining Universal

Skrining universal adalah skrining yang dilakukan pada semua bayi untuk mendeteksi gangguan pendengaran tanpa melihat faktor risiko dan gejalanya. Pemeriksaan skrining yang dilakukan adalah tes otoacoustic emissions (OAE), tes auditory brainstem response (ABR), atau kombinasi keduanya. Pemeriksaan tersebut  telah terbukti keberhasilannya untuk menilai fungsi pendengaran secara noninvasif.

Skrining universal didasarkan pada dua pertimbangan pokok. Pertama, adanya fase kritis perkembangan kemampuan bahasa dan intervensi lebih dini memberikan hasil yang lebih baik. Kedua, terapi gangguan pendengaran terbukti memperbaiki komunikasi anak.

Data dari penelitian menunjukkan bahwa diagnosis gangguan pendengaran dan intervensi yang dilakukan sebelum bayi berusia 6 bulan meningkatkan kemampuan bicara, bahasa, kognitif, dan perkembangan sosial.  Apabila skrining tidak dilakukan saat lahir, dapat terjadi keterlambatan diagnosis hingga anak berusia 3 tahun.

Sebagian besar organisasi kesehatan nasional, di antaranya American Academy of Pediatrics (AAP), dan The Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) merekomendasikan dilakukan skrining gangguan pendengaran pada semua bayi baru lahir. AAP merekomendasikan bahwa 100% bayi dengan gangguan pendengaran kongenital didiagnosis sebelum usia 3 bulan dan mendapatkan intervensi yang tepat sebelum usia 6 bulan.  JCIH dalam Year 2007 Position Statement : Principles and Guidelines for Early Hearing Detection and Itervention Programs mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut :

  1. Semua bayi dilakukan skrining gangguan pendengaran sebelum berusia 1 bulan.
  2. Bayi yang tidak lulus tes skrining, dilakukan pemeriksaan pendengaran secara komprehensif sebelum berusia 3 bulan.
  3. Bayi yang didiganosis gangguan pendengaran seharusnya mendapatkan intervensi/terapi sebelum berusia 6 bulan.

Rekomendasi skrining universal tersebut tidak terlepas dari evaluasi risiko dan manfaatnya (risk and benefits). Berbagai konsensus organisasi kesehatan telah sepakat bahwa manfaat skrining universal gangguan pendengaran pada bayi melebihi risiko efek sampingnya.  (FRS)

Tabel 2. Rationale Skrining Universal

RATIONALE (PERTIMBANGAN RASIONAL)
Importance (Pentingnya)

Anak dengan gangguan pendengaran mengalami kesulitan dalam hal komunikasi verbal dan nonverbal, masalah prilaku, fungsi psikososial, dan penurunan prestasi akademik.

Detection (Deteksi)

Karena setengah dari anak yang mempunyai gangguan pendengaran tidak menunjukkan adanya faktor risiko, skrining universal direkomendasikan untuk mendeteksi gangguan pendengaran permanen.  Terdapat bukti klinis yang baik (good evidence) bahwa tes skrining pendengaran pada bayi baru lahir sangat akurat dan bermanfaat untuk deteksi dini dan terapi gangguan pendengaran.

Benefits (Manfaat)

Bukti klinis (goog-quality evidence) menunjukkan bahwa deteksi dini meningkatkan kemampuan bahasa.

Harms (Risiko)

Bukti klinis mengenai dampak negatif skrining sangat terbatas. Risiko komplikasi skrining dan terapi secara keseluruhan diperkirakan minimal.

Sumber :

  1. Joint Committee on Infant Hearing.  2007 Position Statement : Principles and Guidelines for Early Hearing Detection and Intervention Programs. Pediatrics Volume 120, No 4, October 2007. Available from http://pediatrics.aappublications.org/content/120/4/898.full.pdf
  2. Newborn and Infant hearing loss : Detection and Intervention. Pediatrics Vol. 103, No. 2, February 2009. Available from http://aappolicy.aappublications.org/cgi/reprint/pediatrics;103/2/527.pdf
  3. Hearing Assessment in Infants and Children : Recommendations Beyond Neonatal Screening. Pediatrics Vol. 111, No. 2, February 2003. Available from http://aappolicy.aappublications.org/cgi/reprint/pediatrics;111/2/436.pdf
  4. Universal Screening for Hearing Loss in Newborns : US Preventive Services Task Force Recommendation Statement. Pediatrics Vol. 122, No. 1, July 2008. Available from http://www.idph.state.ia.us/iaehdi/common/pdf/preventative_taskforce.pdf
  5. Universal Newborn Hearing Screening. Am Fam Physician 2007; 75; 1349 – 1352. Available from http://www.aafp.org/afp/2007/0501/p1349.pdf
Share on Facebook


CAPTCHA Image
*