Thursday, November 27, 2014

Cetak Cetak

Kesehatan Perempuan-Pernikahan Dini

January 14, 2010 by Anto Lucu · Leave a Comment 

Pernikahan Dini

Sampai ajal memisahkan kita: Memahami risiko kesehatan reproduksi dan seksual dari pernikahan dini

Masa anak dan remaja umumnya adalah masa terindah dalam hidup seseorang. Masa-masa ini akan terpotong menjadi sangat pendek saat pernikahan dilakukan terlalu dini. Sebagian besar negara mensyaratkan usia 18 tahun sebagai usia minimal untuk melangsungkan pernikahan. Namun di banyak Negara berkembang pernikahan dini banyak berlangsung. Komisi populasi dunia meramalkan selama dekade ini lebih dari 100 juta perempuan di dunia akan menikah sebelum usianya 18 tahun. Beberapa dari perempuan ini akan menikah usia 8 atau 9 tahun dan menikah melawan keinginan mereka sendiri.

Pernikahan usia dini akan menimbulkan efek pada kesehatan reproduksi dan seksual perempuan dan banyak pengalaman hidup yang berharga pada saat remaja yang akan hilang untuk selamanya.

(Bukan) Rencana yang baik

Keputusan perempuan muda untuk menikah seringkali dibuat oleh orang tua atau masyarakat. Norma sosial, gender, adat dan situasi ekonomi semua menyumbang tekanan yang menempatkan perempuan untuk menikah di usia muda. Beberapa orang tua percaya dengan menikahkan anak mereka pada usia muda maka mereka membantu anak mereka untuk melengkapi fungsi sosialnya sebagai istri dan ibu. Orang tua juga percaya mereka memberikan perlindungan dengan membatasi hubungan seksual hanya kepada satu orang (mengurangi risiko infeksi menular seksual/IMS dan HIV) dan menjamin stabilitas ekonomi untuk anak perempuan dan keluarga.

Tidak peduli berapa baik harapan orang tua namun pada kenyataannya pernikahan usia dini tidak memberikan perlindungan sama sekali, faktanya adalah yang terjadi kebalikannya. Serta menyingkirkan perempuan muda dari masa kanak-kanaknya, impiannya dan hak asai serta hak kesehatannya.

Pengorbanan kesehatan

Meskipun orang tua percaya mereka melindungi anak mereka dari IMS dan HIV, mereka sebenarnya menempatkan anak mereka dalam risiko yang lebih tinggi. Suami umumnya lebih tua dan memiliki pengalaman seks yang lebih banyak, kadang sudah membawa infeksi IMS atau HIV. Penelitian di Kenya dan Zambia menunjukkan pengantin remaja medapat HIV lebih cepat daripada perempuan yang belum menikah yang sudah aktif secara seksual di lokasi yang sama.

Pengantin anak-anak mendapat tekanan yang tinggi untuk segera melahirkan anak segera setelah pernikahan. Hal ini tidak saja mengurangi usaha untuk mengurangi penularan IMS dengan penggunaan kondom tetapi juga menempatkan perempuan pada risiko tinggi kematian ibu.  Anak usia 15-19 tahun lebih besar kemungkinan mengalami komplikasi selama kehamilan dan persalinan termasuk fistula obstetric. Mereka juga lebih mungkin untuk memiliki anak dengan berat lahir rendah, kurang gizi dan anemia. Ibu muda ini juga lebih mungkin untuk menderita kanker serviks nantinya.

“Married adolescents have been largely ignored in development and health agendas because of the perception that their married status ensures them a safe passage to adulthood. Nothing could be further from the truth.”

- Thoraya Ahmed Obaid, UNFPA Executive Director

Ketidakberdayaan

Istri usia muda sering mengalami kebebasan dan otonomi yang terbatas dan tidak mampu kompromi mengenai relasi seksual, penggunaan kontrasepsi, kehamilan dan hal-hal lain di kehidupan berkeluarga. Ketidakmampuan kompromi mengenai penggunaan kondom menempatkan mereka pada posisi rentan untuk tertular IMS dan HIV.

Relasi gender yang tidak seimbang dan perbedaan usia yang jauh antara suami dan istri (yang masih muda) juga meningkatkan kemungkinan kekerasan domestik. Perempuan yang menikah muda lebih sering mengalami kekerasan dan seringkali percaya bahwa kekerasan oleh suami adalah suatu hal yang benar.

Terisolasi

Setelah menikah perempuan muda biasanya terpaksa meninggalkan keluarga, teman dan lingkungannya untuk pindah ke lingkungan suami. Kehilangan dukungan sosial dan putus  sekolah akan menggangu proses pendidikannya. Dengan keterbatasan meninggalkan rumah maka perempuan akan terisolasi dan sulit menerima informasi mengenai kesehatan reproduksi.  Mereka seringkali tidak berdaya mengakses pelayanan kesehatan masyarakat, mereka perlu izin untuk mendapat pelayanan tersebut. Mereka umumnya tidak mampu membayar pelayanan kesehatan. Tanpa adanya pelayanan sosial atau informasi kesehatan maka perempuan yang menikah muda tersebut  tidak dapat memperoleh dukungan. Masalah yang ada tetap tidak diketahui atau diabaikan oleh masyarakat dan mereka menjadi korban yang tidak terlihat.

Tanpa ada cita-cita

Pernikahan usia dini menghilangkan masa kanak-kanak.  Anak perempuan dihambat untuk mencapai cita-cita dan aspirasinya. Hak untuk memilih kapan mereka akan punya anak dan berapa anak yang ingin mereka punyai tidak menjadi hak mereka lagi. Kesehatan reproduksi dan seksual mereka dikorbankan dan kadangkala dapat menyebabkan kematian.

“I was promised to a man before I was 10. It was a traditional wedding. When the time came, I was sent over to my husband’s family. And when I saw him, I realized he was older than my daddy.”

- Excerpt from the film ‘Too Brief a Child’

Perubahan memang sulit

Perubahan norma sosial dan gender memang tidak mudah. Keluarga, masyarakat, termasuk anak laki-laki dan laki-laki dewasa perlu memahami risiko pada pernikahan usia dini dan ikut terlibat dalam proses perubahan. Anak perempuan yang menikah yang tidak berdaya dan terisolasi perlu dukungan kita. Apa yang dapat dilakukan?

Menyediakan kesempatan untuk anak perempuan melanjutkan sekolah atau menghasilkan uang sementara mengembangkan kemampuan dan memberikan pilihan-pilihan dalam hidup ini merupakan satu strategi yang efektif dalam menunda pernikahan. Di Banglades program beasiswa sekolah untuk anak perempuan menurunkan angka pernikahan dini. Perluasan sekolah dan penyediaan pelatihan kerja  meningkatkan otonomi dan kebebasan dari anak perempuan.

Usaha lebih lanjut untuk mengurangi hambatan terhadap perempuan muda memperoleh pelayanan kesehatan dan informasi kesehatan di luar rumah tangganya termasuk pelayanan keluarga berencana harus dilakukan. Program untuk remaja merupakan progam yang efektif dalam mendidik dan mendorong kemandirian  perempuan muda (sama juga dengan laki-laki muda) dalam hak dan kesehatan reproduksi. Program ini tidak hanya di sekolah tetapi juga di masyarakat dan pedesaan.

Satu hal yang pasti adalah kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi perempuan muda harus ditingkatkan secara holistik dan simultan. Pendekatan kultural dan tradisi perlu dipertimbangkan dan diintegrasikan untuk mencapai perubahan di masyarakat.

Pelangaran Hak Asasi Manusia

Pernikahan anak adalah pelanggaran hak seksual dan reproduksi perempuan, termasuk hak untuk :

  • Mendapat standar tertinggi kesehatan seksual
  • Bebas dari paksaan, diskriminasi, kekerasan dan pelecehan
  • Relasi seksual yang disepakati bersama
  • Kehidupan seksual yang aman
  • Memilih pasangan dan pernikahan
  • Mendapat informasi dan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi, termasuk informasi bagaimana melindungi diri terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, IMS dan HIV/AIDS
  • Menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah, jarak dan waktu memiliki anak dan mendapat informasi tentang hal itu
  • Mendapat Pelayanan reproduksi dan seksual

(YSK)

Sumber :

http://iwhp.sogc.org/index.php?page=early-marriage&hl=en_US

Share on Facebook


CAPTCHA Image
*