Friday, October 31, 2014

Cetak Cetak

Trauma Kepala

January 11, 2010 by Anto Lucu · 1 Comment 

TRAUMA KEPALA

9/23/2008

Trauma kepala umum terjadi pada anak pada umur berapapun. Penyebab trauma kepala ini antara lain jatuh, kecelakaan saat berolahraga, kecelakaan lalu lintas, dan trauma bukan karena kecelakaan.

Pemeriksaan
Lakukan primary survey dan pastikan jalan napas, tulang servikal, pernapasan dan sirkulasi anak dalam keadaan aman.
Segera periksa status mental anak dengan meggunakan skala AVPU. Gunakan penekanan pada supraorbital yang cukup keras sebagai rangsang nyeri.

A Alert (sadar)
V Responds to voice (berespon terhadap suara)
P Responds to pain (berespon terhadap nyeri)

Purposefully
Non-purposefully

Withdrawal/flexor response
Extensor response

U Unresponsive (tidak berespon)

Nilai ukuran pupil, sama tidaknya dan reaktivitasnya, dan cari tanda-tanda neurologis fokal lainnya.
Lakukan secondary survey untuk melihat secara spesifik pada:

  • Leher dan tulang servikal – deformitas, nyeri, spasme otot
  • Kepala – lecet di kulit kepala, laserasi, pembengkakan, nyeri, Battles
  • Mata – ukuran pupil, ekualitas dan reaktivitas, funduskopi
  • Telinga – darah di belakang gendang telinga, kebocoran LCS
  • Hidung – deformitas, pembengkakan, perdarahan, kebocoran LCS
  • Mulut – trauma gigi, trauma jaringan lunak
  • Patah tulang wajah
  • Fungsi motorik – periksa alat gerak untuk melihat adanya refleks dan kelemahan sesisi
  • Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score
  • Pertimbangkan kemungkinan adanya trauma non-kecelakaan selama secondary survey terutama pada bayi dengan trauma kepala
    Trauma lain

Dapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian kecelakaan. Secara spesifik tentukan:

  • Waktu, mekanisme, dan keadaan trauma
  • Hilangnya kesadaran dan durasinya
  • Mual dan muntah
  • Kondisi klinis sebelum dibawa ke dokter – stabil, memburuk, membaik
    Luka-luka lainnya

Derajat Kesadaran – Glasgow coma scale (GCS)

Mata membuka Respon Verbal
(modifikasi untuk anak kecil dengan tulisan merah)
Spontan 4 Orientasi baik
Kata-kata yang tepat, senyum
5
Dengan suara 3 Bingung
Menangis tetapi dapat ditenangkan
4
Terhadap nyeri 2 Kata-kata yang tidak tepat
Terus-menerus rewel
3
Tidak ada 1 Kata-kata yang tidak dapat dimengerti
Lelah dan gelisah
2
Tidak ada
Tidak ada
1
Respon motorik
Menuruti perintah 6
Melokalisasi rangsang 5
Menarik dari rangsang 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi 2
Tidak ada respon 1

Tatalaksana
Trauma kepala ringan:

  • Tidak kehilangan kesadaran
  • Satu kali atau tidak ada muntah
  • Stabil dan sadar
  • Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala
  • Pemeriksaan lainnya normal

Anak-anak ini dapat dipulangkan dari Gawat Darurat untuk kemudian dirawat oleh orang tuanya. Jika terdapat keraguan apakah telah terjadi hilangnya kesadaran atau tidak, anggap telah terjadi dan tatalaksana sebagai trauma kepala sedang. Pastikan orang tua mendapatkan instruksi yang jelas mengenai tatalaksana anak mereka di rumah terutama untuk segera kembali ke rumah sakit jika anak:

  • menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan
  • menjadi bingung
  • mengalami kejang
  • timbul sakit kepala menetap
  • berulang kali muntah
  • keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga

Trauma kepala sedang:

  • Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian
  • Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin mengantuk
  • Dua atau lebih episode muntah
  • Sakit kepala persisten
  • Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma
  • Mungkin mengalami luka lecet, hematoma, atau laserasi di kulit kepala
  • Pemeriksaan lainnya normal

Jika berdasarkan anamnesis dari keluarga atau petugas ambulans, anak tidak mengalami penurunan secara neurologis maka anak dapat diobservasi di IGD selama 4 jam dengan observasi tiap 30 menit (kesadaran, nadi, frekuensi napas, tekanan darah, pupil, dan kekuatan motorik). Anak dapat dipulangkan jika terdapat perbaikan selama 4 jam menjadi dalam keadaan sadar dan tidak terdapat muntah. Sakit kepala persisten, hematoma yang besar, atau luka penetrasi dapat membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Jika anak masih mengantuk atau muntah atau bila terdapat perburukan selama 4 jam, diskusikan dengan ahli bedah saraf untuk rawat inap dan penyelidikan lebih lanjut.

Trauma kepala berat:

  • Kehilangan kesadaran dalam waktu lama
  • Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif
  • Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga
  • Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana, kelemahan sesisi)
  • Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:
    • Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor
    • Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi
  • Trauma kepala yang berpenetrasi
  • Kejang (selain Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma)

Tatalaksana awal trauma kepala berat:

Mencegah kerusakan otak sekunder dengan mempertahankan jalan napas yang paten, ventilasi dan oksigenasi adekuat, dan menghindari hipotensi.
Imobilisasi tulang servikal harus dipertahankan bahkan apabila foto lateral tulang servikal normal.
Pastikan intervensi bedah sarah dan ICU sejak dini.
Dengan konsultasi bersama ahli bedah saraf pertimbangkan untuk menurunkan tekanan intrakranial:

  • Naikkan kepala 20-30° (hanya setelah syok dikoreksi)
  • Ventilasi sampai pCO2 35mmHg
  • Pertimbangan pemberian mannitol 0.5-1g/kg IV
  • Pastikan tekanan darah adekuat

Kontrol kejang.
Lakukan CT scan kepala segera.

Berdasarkan National Institute for Health and Clinical Excellence, CT scan kepala dilakukan jika terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini:

  • Kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit
  • Tidak dapat mengingat kejadian sebelum atau sesudah trauma dan berlangsung lebih dari 5 menit
  • Mengantuk yang tidak lazim
  • Mual tiga kali atau lebih sejak trauma
  • Kemungkinan kerusakan yang timbul perlahan
  • Kejang setelah trauma (jika anak tidak menderita epilepsi)
  • GCS kurang dari 14 atau kurang dari 15 untuk bayi kurang dari 1 tahun, ketika pertama kali diperiksa di IGD
  • Tanda-tanda yang menunjukkan tengkorak menekan otak
  • Tanda-tanda fraktur basis cranii (misal, mata panda’)
  • Luka lecet, bengkak, atau robekan di kepala >5cm pada bayi di bawah 1 tahun
  • Mengalami kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi
  • Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter
  • Terluka oleh benda atau sesuatu dengan kecepatan tinggi

PANDUAN UNTUK ORANG TUA

Anak-anak seringkali mengalami benturan di kepala dan sulit untuk diketahui apakah hal itu merupakan masalah yang serius atau tidak. Jika anak Anda terbentur di kepala, sebaiknya Anda menemui dokter. Trauma kepala adalah benturan apa pun yang mengenai kepala yang menyebabkan benjol, luka lecet, robekan, atau luka yang lebih parah pada kepala anak. Kebanyakan trauma kepala bukan merupakan hal yang serius dan hanya menimbulkan benjol atau luka lecet. Namun terkadang trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.

Cari bantuan medis segera jika :

Anak Anda mengalami benturan keras di kepala, seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan mobil.
Anak Anda kehilangan kesadaran.
Anak Anda tampak tidak sehat dan muntah beberapa kali setelahnya

Gejala dan Tanda

Gejala trauma kepala digunakan untuk menentukan berat tidaknya trauma tersebut. Trauma kepala dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat.

Trauma kepala berat adalah ketika anak Anda:

  • Tidak sadar lebih dari 30 detik.
  • Mengantuk dan tidak berespon terhadap suara Anda.
  • Memiliki tanda-tanda trauma kepala lain yang signifikan, seperti lebar pupil yang tidak sama, kelemahan lengan dan kaki.
  • Ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya.
  • Mengalami kejang kedua selain kejang singkat pertama ketika trauma terjadi.
  • Anda sebaiknya menghubungi ambulans segera jika anak Anda mengalami trauma kepala berat.

Trauma kepala sedang adalah ketika anak Anda:

  • Tidak sadar selama kurang dari 30 detik.
  • Sadar dan berespon terhadap suara Anda.
  • Muntah 2 kali atau lebih.
  • Sakit kepala.
  • Kejang singkat satu kali dapat terjadi langsung setelah trauma .
  • Bisa mengalami luka lecet, benjol, atau luka robek yang besar di kepala.

Anak Anda sebaiknya diawasi dengan ketat di rumah sakit selama paling sedikit 4 jam setelah trauma kepala sedang.

Trauma kepala ringan adalah ketika anak Anda:

  • Tidak kehilangan kesadaran/tidak pingsan.
  • Sadar atau dapat berinteraksi dengan Anda.
  • Mungkin muntah, namun hanya sekali.
  • Bisa terdapat luka lecet atau robek di kepalanya.
  • Selain itu normal.

Tatalaksana untuk trauma kepala ringan
Sebagian besar anak dengan trauma kepala ringan sembuh sepenuhnya. Sebagian besar benturan ringan hanya menyebabkan luka lecet dan nyeri sebentar.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang mengalami trauma untuk membantu mengurangi bengkak.
Jika terdapat luka, tutup dengan perban bersih dan tekan selama 5 menit. Luka robek di kepala sering berdarah banyak.

Masalah-masalah yang harus diperhatikan 1-2 hari setelahnya:

Sakit kepala. Anak Anda dapat mengalami sakit kela. Berikan parasetamol tiap 4-6 jam jika diperlukan untuk menghilangkan nyeri.
Muntah. Anak Anda dapat mengalami muntah sekali, namun jika muntah berkelanjutan, bawalah ke dokter.
Mengantuk. Segera setelah trauma kepala Anak Anda mungkin merasa mengantuk. Anda tidak perlu menjaganya agar tetap bangun bila ia ingin tidur. Jika anak Anda tidur, bangunkan tiap ½-1 jam untuk memeriksa kondisinya dan reaksinya pada hal-hal yang dikenalnya. Anda sebaiknya melakukan ini sampai ia tak lagi mengantuk dan telah terjaga selama beberapa jam. Beberapa pertanyaan yang dapat Anda ajukan:

  • Apakah ia mengetahui namanya?
  • Apakah ia mengetahui nama orang lain yang dikenalnya?
  • Apakah ia mengetahui hari apa hari ini?
  • Atau jika anak Anda masih kecil: apakah reaksinya tampak sesuai? Misalnya mengambil sebuah mainan. Apakah ia tampak interaktif dan tidak terlalu rewel?

Jika Anda mengalami kesulitan membangunkan anak Anda, bawa anak ke gawat darurat terdekat atau hubungi ambulans.
Jika perilaku anak Anda sangat berbeda dengan perilaku normalnya atau bila nyeri tidak hilang, pergilah ke dokter.

Follow up
Beberapa masalah yang mungkin timbul akibat trauma kepala bisa sulir untuk dideteksi pada awalnya. Pada beberapa minggu selanjutnya orang tua mungkin melihat adanya:

  • Rewel
  • Mood yang berganti-ganti
  • Kelelahan
  • Masalah konsentrasi
  • Perubahan perilaku

Sampaikan pada dokter Anda jika Anda khawatir akan tanda-tanda tersebut.

Temui dokter Anda atau kembali ke rumah sakit segera jika anak Anda mengalami/memiliki:

  • Perilaku yang tidak lazim
  • Sakit kepala terus menerus atau beray yang tidak hilang dengan parasetamol (rewel pada bayi)
  • Muntah berulang kali
  • Keluar darah atau cairan dari telinga atau hidung.
  • Kejang atau spasme pada wajah, lengan, atau kaki
  • Sulit bangun
  • Sulit untuk tetap terjaga
  • Jika Anda merasa khawatir dengan sebab apapun

Hal-hal yang harus diingat
Jika anak Anda mengalami trauma kepala, sebaiknya temui dokter.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang terkena trauma untuk membantu mengurangi bengkak.

Algoritme Evaluasi dan Triase Anak dan Remaja dengan Trauma Kepala (Berdasarkan American Academy of Pediatrics dan American of Family Physician)

Keterangan

(A) Parameter ini ditujukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan yang sebelumnya sehat secara neurologis yang memiliki status mental normal, tanpa kelainan neurologis fokal (termasuk funduskopi), dan tidak terdapat tanda fisik fraktur tengkorak (seperti hemotimpanum, Battle’s sign).

(B) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang kompeten dianjurkan untuk anak dengan trauma kepala tertutup ringan tanpa kehilangan kesadaran.

(C) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang kompeten mungkin dilakukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran.

(D) CT scan bersama dengan observasi dapat dilakukan untuk evaluasi dan tatalaksana awal dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran singkat.

(E) Jika pencitraan diperlukan oleh dokter dan jika baik CT scan dan foto Roentgen kepala tersedia, CT scan merupakan modalitas pilihan, karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang lebih baik. Apabila tidak terdapat CT scan, foto Roentgen kepala dapat membantu dokter untuk mengetahui adanya resiko kerusakan intrakranial. Namun fraktur tengkorak dapat dideteksi pada foto kepala tanpa adanya jejas intrakranial dan kadang-kadang terdapat kerusakan intrakranial meskipun tidak terdapat fraktur tengkorak pada foto kepala. Apakah adanya kerusakan intrakranial berdasarkan hasil pada foto kepala cukup untuk merubah strategi penanganan bergantung keinginan dokter dan keluarga.

(F) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih sensitif daripada CT dalam mendiagnosis lesi intrakranial tertentu. Namun, saat ini tidak terdapat perbedaan antara CT dan MRI dalam mendiagnosis trauma dan perdarahan intrakranial akut yang secara klinis signifikan yang membutuhkan intervensi bedah saraf. CT lebih cepat dan lebih mudah dibanding MRI dan biaya CT lebih murah daripada MRI.

(G) Pasien yang secara neurologis normal dengan CT scan yang normal memiliki resiko yang sangat rendah untuk terjadinya perburukan. Pasien dapat dipulangkan untuk observasi oleh orang yang dapat dipercata jika CT scan setelah trauma normal. Keputusan untuk melakukan observasi di rumah diambil dengan mempertimbangkan kemungkinan anak harus kembali ke rumah sakit dan besarnya tingkat kepercayaan pada orang tua atau orang yang akan melakukan observasi. Observasi dapat pula dilakukan di klinik, tempat praktek, IGD, atau rumah sakit tergantung keinginan dokter dan orang tua.

(H) Jika CT scan menunjukkan adanya kelainan, tergantung kelainan tersebut apakah akan dirujuk atau tidak dan jika perlu konsultasi dengan subspesialis yang sesuai.

(I) Jika status neurologis anak memburuk selama observasi, dilakukan pemeriksaan neurologis menyeluruh, bersamaan dengan CT scan segera setelah kondisi pasien stabil. Jika pada pengulangan CT scan menunjukkan kelainan patologis intrakranial baru, diperlukan konsultasi dengan subspesialis.
Referensi :

1. American Academy of Pediatrics Committee on Quality Improvement. The Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari www.aap.org

2. American Academy of Family Physicians Commission on Clinical Polices and Research. The Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari www.aafp.org

3. Royal Childrens Hospital. Clinical practice guidelines: Head injury. Diakses dari www.rch.au.org
4. Royal Childrens Hospital. Kids health info for parents: Head injury. Updated June 26, 2006. Diakses dari www.rch.au.org.

dr. Veda

Share on Facebook

Comments

One Response to “Trauma Kepala”
  1. irfan says:

    minta artikelnya dong


*