Pekan ASI sedunia

Para ibu menyusui yang berbahagia,

Sepekan berlalu kita merayakan Pekan ASI sedunia,(1-7 Agustus 2010) mari tingkatkan perhatian seluruh ibu di dunia terhadap “Sepuluh langkah sukses menyusui yang adalah pedoman WHO dan UNICEF demi mensukseskan ASI eksklusif. Ketahuilah juga tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

Mari melakukan berbagai kegiatan promosi untuk meningkatkan tekad ibu untuk menyusui. Artikel menyusui vs susu formula menyediakan informasi yang objektif tentang keuntungan dan kerugian masing-masing. Mari aktif menginformasikan kepada semua orang bahwa perlindungan terhadap ibu menyusui adalah hak ibu, hak bayi dan hak asasi manusia. Anda tidak perlu berhenti bekerja untuk memberikan ASI eksklusif, artikel mengenai ASI perah dapat menjadi jalan keluar bagi ibu bekerja. Dan untuk meningkatkan ASI anda bacalah “kunci untuk menaikan suplai ASI” Dan apabila anda terlanjur hamil lagi, adalah hak si kakak untuk tetap melanjutkan ASI nya, artikel mitos dan fakta menyusui pada kehamilan akan memberikan anda banyak informasi.

Mari memberdayakan para wanita peduli ASI termasuk anda untuk memperjuangkan layanan kesehatan yang peduli ASI, bekali diri dengan pengetahuan “apabila ibu sakit” dan “apabila bayi sakit” yang memberikan anda pandangan bahwa hampir tidak ada kontraindikasi menyusui. Kita pun tidak dapat memastikan bahwa tenaga medis yang melayani ibu dan bayi telah mengerti dan mendukung ASI eksklusif, oleh karena itu penting membekali diri dengan membaca “menyusui dengan putting datar”, “bingung putting”, “putting lecet atau berdarah”, “thrush di mulut bayi”, dan “Bayi mogok menyusu”, yang sering kali menjadi tantangan saat menyusui, dan tidak jarang membuat kita berpaling kepada susu formula.

Salam ASI,

Share on Facebook

Daftar obat (Klik di sini)

Acarbose

Acyclovir

Acyclovir (salep mata)

Albendazole

Amfoterisin B

Amikasin

Aminophillin

Amlodipine

Amodiaquine

Amoxicillin

Amoxicillin asam clavulanat

Ampicillin

Antasida

Artesunate

Arthemeter

Asam Benzoat + salisilat

Asam Folat

Asam salisilat

Asam salisilat (topical)

Asam valproat

Atropine (tetes mata)

Aztreonam

Azytromycin

Beclomethasone

Benzoyl peroxide

Benzyl benzoate

Benzylpenisilin

Besi (Fe)

Betametason

Betametason (tetes mata)

Bisacodyl

Bisoprolol

Budesonide

Calamine

Captropil

Carbamazepin

Carbimazole

Cefaclor

Cefadroxil

Cefaleksin

Cefixime

Cefodoxime

Cefotaxime

Cefradine

Ceftazidim

Ceftriaxone

Cefuroxime

Cetirizine

Chloramphenicol

Chlorpheniramine (CTM)

Ciprofloxacin

Claritomisin

Clotrimazole

Coal tar

Codein

Cotrimoxazole

Cyproheptadine

Desloratadine

Dexametasone

Diazepam

Dietilcarbamazine

Diltiazem

Dipenhidramine

Domperidon

Doripenem

Doxycicline

Elanapril

Epinefrin (tetes mata)

Ertapenem

Erythromycin

Estradiol cypionate + medroxyprogesterone

Ethambutol

Ethinylestradiol + levonorgestrel

Ethinylestradiol + norethisterone

Famciclovir

Fenitoin

Fexofenadine

Flucloxacillin

Flukonazole

Fluocinolone

Gentamisin

Gentamisin (tetes mata)

Gentian violet

Glibenclamide

Gliclazide

Glimepiride

Glipizide

Griseofulvin

Hidroklorotiazid (HCT)

Hydrokortison

Hydroxyzine Hydrochloride

Hyosine Butylbromida

Ibuprofen

Imipenem

Insulin

Iodine dan Iodide

Ipratropium bromide

Irbesartan

Isoniazid

Itrakonazole

Kalium Permanganat (PK)

Kalsium

Ketokonazole

Ketotifen

Kina

Klorokuin

Klorpropamid

Lactulosa

Levamizole

Levocetirizine

Levofloxacin

Levonorgestrel

Levonorgestrel (Implan)

Levotiroksin sodium

Liotironin sodium

Loratadine

Magnesium sulfat

Mebendazole

Medroxyprogesterone acetate

Mefloquine

Meronem

Metformin

Metilprednisolone

Metoklopramid

Metronidazole

Miconazole

Minosiklin

Mizolastine

Mometasone

Moxifloxacin

Neomisin

Nifedipine

Nystatin

Norfloxacin

Obat batuk dan pengencer dahak

Ofloxacin

Oksitetrasiklin

Omeprazole

Oralit (cairan rehidrasi oral)

Paracetamol

Permethrin

Phenobarbital

Phenoxymethilpenicillin

Pilokarpin (tetes mata)

Pioglitazone

Piperacillin

Piperazin

Podophyllum resin

Prazikuantel

Prednisolone

Prednisolone (tetes mata)

Primakuin

Prometazine

Propiltiourasil (PTU)

Propanolol

Pseudoefedrine

Pyrantel

Pyrazinamide

Ranitidine

Rifampisin

Rosiglitazone

Salbutamol

Selenium sulfide

Silver sulfadiazine

Spiramisin

Streptomisin

Sulfadoksin pirimetamin

Teofilin

Terbutalin

Tetracaine (tetes mata)

Tetrasiklin

Tetrasiklin (salep mata)

Ticarcillin

Timolol (Tetes mata)

Tobramisin

Tolbutamide

Triamcinolone

Urea

Valaciclovir

Valsartan

Verapamil

Vitamin A

Vitamin B

Vitamin C

Vitamin D

Vitamin E

Vitamin K

Xylometazoline

Share on Facebook

Flucloxacillin

(Floxapen)

Indikasi    1 : infeksi karena stafilokokus yang menghasilkan beta laktamase termasuk otitis eksterna; penggunaan pada pneumonia, impetigo, selulitis, osteomielitis, dan endocarditis karena stafilokokus.

Kontraindikasi1 :  lihat pada benzilpenisilin

Perhatian1 :  lihat pada benzilpenisilin; juga risiko kernikterus pada jaundice bayi baru lahir saat dosis tinggi diberikan intravena. Hati-hati pada gangguan hati.

Dosis :

  • Melalui mulut, 250-500 mg , setiap 6 jam, minimal 30 menit sebelum makan; ANAK dibawah 2 tahun seperempat dosis dewasa; 2-10 tahun setegah dosis dewasa.
  • Injeksi intramuskular, 250-500 mg tiap 6 jam, ANAK dibawah 2 tahun seperempat dosis dewasa; 2-10 tahun setegah dosis dewasa.

Sediaan

Capsul (250 mg; 500 mg)

Efek samping1 :  lihat pada benzylpenisilin; termasuk gangguan saluran cerna; sangat jarang berupa hepatitis dan kolestasis jaundice

Share on Facebook

Insulin

Insulin adalah hormone berupa protein yang berfungsi mengatur metabolism protein, kerbohidrat dan lemak. Jenis insulin dari satu binatang dan binatang lainnya termasuk manusia memiliki struktur asam amino yang berbeda. Insulin yang digunakan untuk pasien diabetes berasal dari pancreas babi yang dikristalkan, insulin yang berasal dari pancreas sapi saat ini jarang sekali digunakan.  Insulin yang menyerupai insulin manusia saat ini telah dikembangkan dengan meipulasi DNA pada bakteri atau jamur.

Insulin dirusak oleh enzim pencernaan sehingga insulin diberikan melalui suntikan. Jalur yang paling ideal adalah suntikan subkutan
(di bawah kulit), bisa dilakukan di lengan atas, paha, bokong, dan perut. Penyuntikan di daerah tungkai dapat mempercepat penyerapan apabila setelah penyuntikan pasien melakukan aktivitas. Efek samping penyuntikan subkutan adalah  pertumbuhan yang berlebihan dari sel lemak di tempat suntikan, ini bisa dicegah dengan menyuntik di tempat yang berbeda-beda.

Insulin diberikan pada pasien dengan ketoasidosis, dan sangat dibutuhkan juga pada pasien diabetes dengan gejala yang memburuk dengan cepat, penurunan berat badan yang sangat cepat, badan lemah, ketonuria (terdapat keton dalam air seni), memiliki riwayat saudara kandung dengan diabetes tipe 1.

Insulin juga digunakan pada anak dengan diabetes, diabetes pada orang dewasa yang tidak terkontrol dengan obat-obatan, atau adanya penyakit lain yang menyertai, serta pada pasien diabetes yang akan menjalankan operasi.

Tatalaksana diabetes dengan insulin.

Tujuan utama terapi adalah mendapatkan kadar gula darah yang normal tanpa menghasilkan gula darah yang sangat rendah (hipoglikemi). Campuran jenis insulin mungkin diperlukan, tergantung dari kebutuhan pasien. Untuk pasien dengan diabetes yang  akut , terapi dimulai dengan insulin masa kerja pendek yang diberikan tiga kali sehari, dan gunakan insulin masa kerja sedang sebelum tidur. Untuk pasien diabetes yang sakit berat, diberikan campuran jenis insulin (insulin masa kerja pendek dan masa kerja sedang = 30:70) diberikan dua kali sehari sejumlah 8 unit perdosis sebagai dosis awal. Dosis insulin dapat dinaikan secara bertahap, dan dengan hati-hati untuk menghindari hipoglikemia.

Sediaan insulin dapat dibagi menjadi 3 jenis:

-          Insulin dengan reaksi cepat dan masa kerja pendek, yaitu soluble insulin, insulin lispro.

-          Insulin dengan masa kerja sedang yaitu isophane insulin dan insulin zinc suspension

-          Insulin dengan reaksi lama dan masa kerja panjang yaitu insulin zinc suspension.

Namun semuanya tergantung dari masing-masing individu sehingga dosis dan waktu pemberian harus disesuaikan tiap-tiap orang.

Contoh beberapa bentuk regimen insulin:

-          Insulin masa kerja pendek + insulin masa kerja sedang : dua kali sehari sebelum makan.

-          Insulin masa kerja pendek + insulin masa kerja sedang : sebelum sarapan, insulin masa kerja pendek : sebelum makan malam, insulin masa kerja sedang : sebelum tidur.

-          Insulin masa kerja pendek : tiga kali sehari sebelum makan, insulin masa kerja sedang : sebelum tidur.

-          Insulin masa kerja sedang tanpa insulin masa kerja pendek : satu kali sehari sebelum sarapan atau sebelum tidur.

Kebutuhan insulin dapat meningkat diperngaruhi oleh infeksi, stress, cidera, trauma operasi, dan pada saat pubertas. Dan kebutuhannya dapat menurun jika ada gangguan fungsi ginjal atau gangguan fungsi hati, pada pasien dengan gangguan hormonal (penyakit Addison, hipopituitary) atau penyakit celiac.

Kehamilan dan menyusui

Dosis insulin mungkin perlu ditingkatkan pada trimester kedua dan ketiga selama kehamilan. Insulin masa kerja pendek (insulin aspart, insulin lispro) belum pernah dilaporkan berbahaya bagi ibu hamil dan menyusui. Sedangkan insulin masa kerja sedang belum jelas risikonya, apabila insulin masa kerja panjang dibutuhkan pilihannya adalah isophane insulin.

Hipoglikemia

Komplikasi tersering penggunaan insulin adalah hipoglikemia. Gejala hipoglikemia adalah kebingungan, kejang, koma, bahkan kematian sel otak. Pasien yang menggunakan insulin harus diinformasikan mengenai hipoglikemi ini.

Insulin masa kerja pendek

Insulin (insulin injection / neutral insulin / soluble insulin)*

Insulin Aspart (Analog insulin manusia)

Insulin Glulisine (Analog Insulin Manusia)

Insulin Lispro

Insulin masa kerja panjang:

Insulin Determir

Insulin Glargine

Insulin Zinc Suspension*

Isophane insulin*

Protamine Zinc Insulin

Biphasic Insulin :

Biphasic Insulin Aspart

Biphasic Insulin Lispro

Biphasic Isophane Insulin

Share on Facebook

Acarbose

(Eclid, Glucobay)

Acarbose mencegah alfa glukosidase yang terdapat dalam usus halus yang berfungsi mencerna tepung dan sukrosa, meskipun efeknya kecil namun signifikan dalam menurunkan kadar guladarah. Penggunaan acarbose dianjurkan untuk pasien yang tidak dapat mentoleransi obat antidiabetic oral lainnya. Kadar gula darah yang tinggi setelah makan pada diabetes tipe 1 dapat dicegah dengan pemberian acarbose namun penggunaan atas indikasi ini cukup jarang. Efek samping yang sering dirasakan adalah buagn-buang angin namun efek ini berkurang seiring dengan waktu.

Indikasi : diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan diet saja, atau tidak terkontrol dengan diet dan obat antidiabetes lainnya.

Perhatian : perlu dilakukan pemeriksaan rutin fungsi hati, dapat meningkatkan efek hipoglikemia pada pengguna insulin atau sulfonylurea. Kejadian hipoglikemia dapat diatasi dengan pemberian glukosa oral namun tidak dengan sukrosa.

Kontraindikasi : Inflammatory Bowel Disease (penyakit peradangan pada usus besar), adanya sumbatan usus, hernia, riwayat operasi saluran cerna, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.

Kehamilan dan menyusui: pabrik pembuatnya tidak menganjurkan digunakan pada wanita hamil dan menyusui

Efek samping : buang-buang angin, tinja melunak, diare (dosis perlu diturunkan), perut kembung, nyeri perut. Jarang : mual, gangguan fungsi hati, reaksi kulit. Sangat jarang : sumbatan usus, edema, jaundice (kuning), dan hepatitis.

Dosis :

-          Dosis awal 50 mg perhari dinaikan sampai 3×50 mg perhari, jika perlu dalam 6-8 minggu dapat dinaikan sampai 3×100 mg perhari, maksimal 3×200 mg perhari.

-          Tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 18 tahun.

-          Acarbose dikunyah bersama makanan dan ditelan dengan bantuan sedikit air pada suapan pertama saat makan.

-          Pasien yang mengkonsumsi acarbose bersamaan dengan insulin atau sulfonylurea, perlu membawa glukosa oral (bukan sukrosa karena penyerapannya terganggu oleh acarbose) untuk mencegah hipoglikemia sewaktu-waktu.

Sediaan : tablet 50 mg, 100 mg

Share on Facebook

Antidiabetes : Sulfonylurea

Sulfonylurea bekerja dengan cara meningkatkan produksi insulin sehingga sulfonylurea hanya efektif apabila masih tersisa sel beta pakreas yang aktif menghasilkan insulin. Pada pemakaian jangka panjang, sulfonylurea dapat menimbulkan efek di laur pancreas. Semua jenis sulfonylurea berpotensi menimbulkan hypoglikemi namun kejadiannya sangat jarang dan ditimbulkan oleh dosis yang cukup tinggi. Hipoglikemia yang disebabkan oleh sulfonylurea dapat bertahan beberapa jam oleh karena itu harus ditatalaksana di rumah sakit.

Sulfonylurea diberikan kepada pasien yang tidak gemuk atau pada pasien yang kontraindikasi terhadap metformin. Berbagaimacam jenis sulfonylurea dipilih berdasarkan toleransi efek samping, lama masa kerja obat, umur pasien dan fungsi ginjal pasien. Sulfonylurea dengan masa kerja panjang seperti klorpropamid dan glibenclamide memiliki masa kerja yang panjang oleh karena itu tidak dianjurkan pada lanjut usia berkaitan dengan tingginya risiko hipoglikemia, sebagai alterntif pilihan adalah sulfonylurea dengan mas kerja pendek yaitu gliclazide dan tolbutamide. Klorpropamide memiliki efek samping yang lebih berat dibandingkan dengan sulfonylurea lainnya sehingga saat ini pemberian klorpropamid tidak lagi dianjurkan.

Apabila kombinasi diet ketat dengan terapi sulfonylurea dinilai gagal mempertahankan kadar gula darah normal, maka alterntif terapinya adalah :

-          Kombinasi dengan metformin

-          Kombinasi dengan acarbose (keuntungan kombinasi ini tidka banyak, namun sering dilaporkan keluhan buang-buang angin).

-          Kombinasi pioglitazone atau rosiglitazone

-          Kombinasi dengan isophane insulin sebelum tidur (dengan kombinasi ini berisiko kenaikan berat badan dan hipoglikemia).

Insulin perlu diberikan sementara bagi pasien yang hendak menjalani operasi, dan dosis sulfonylurea di pagi hari bisa diabaikan.

PERHATIAN

Sulfonylurea dapat menyebabkan kenaikan berat badan, hanya diresepkan apabila gula darah sulit terkontrol dan gejala yang menetap sekalipun diet ketat sudah dilakukan. Pada pasien gemuk, pilihan utama adalah metformin. Hati-hati penggunaan pada usia lanjut dan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berkaitan dengan risiko hipoglikemia tersebut.

Sulfonylurea juga sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan kelainan ginjal atau dengan bersihan kreatinin yang kurang dari 10 ml/menit.  Jika perlu tolbutamide dapat digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal, gliclazide juga dapat diberikan karena gliclazide dimetabolisme dalam hati, namun monitoring ketat gula darah perlu dilakukan.

KONTRAINDIKASI

Sulfonylurea harus dihindari pada pasien dengan kerusakan hati berat, dan penyakit porfiria akut. Tidak boleh digunakan pada kehamilan dan menyusui. Tidak boleh digunakan pada ketoasidosis.

EFEK SAMPING

Efek samping sulfonylurea pada umumnya ringan dan jarang yaitu gangguan pencernaa nseperti mual, muntah, diare atau konstipasi. Sulfonylurea dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, meskipun sangat jarang dapat menyebabkan jaundice kolestasis, hepatitis dan gagal hati. Reaksi hipersensitivitas dapat muncul terutama pada 6-8 minggu pertama terapi yaitu berupa reaksi alergi kulit seperti eritema multiforme, dermatitis eksfoliatif, demam, kuninga, fotosensitivitas, pernah dilaporkan pada penggunaan klorpropamid dan glipizide. Kelainan darah juga pernah dilaporkan meskipun sangat jarang meliputi leukopeni, trombositopenia, agranulositosis, pantsitopenia, anemia hemolitik, dan anemia aplastik.

Klorpropamid (diabinese)

Indikasi : diabetes mellitus tipe 2

Perhatian : lihat catatan tentang sulfonylurea

Kontraindikasi : lihat catatan tentang sulfonylurea

Efek samping : klorpropamid memiliki masa kerja yang cukup panjang sehingga rentan sekali terhadap hipoglikemia dan sekarang pemakaiannya sudah tidak dianjurkan lagi.

Dosis :

Dosis awal 250 mg perhari bersamaan dengan sarapan pagi, disesuaikan dengan respon, maksimal 500 mg perhari. (untuk usia lanjut 100-125 mg, namun hindari pemakaian untuk lanjut usia)

Sediaan : Tablet 100 mg

Glibenclamid*(Apo-gliburide, clamide, daonil, gliboral, glimel, glitisol, xeltic)

Indikasi : diabetes mellitus tipe 2

Perhatian : lihat catatan tentang sulfonylurea

Kontraindikasi : lihat catatan tentang sulfonylurea

Efek samping : lihat catatan tentang sulfonylurea

Dosis :

Dosis awal 5 mg perhari, setelah sarapan, dosis disesuaikan dengan respon pasien, maksimal 15 mg perhari.

Sediaan : Tablet 2.5 mg, 5 mg

Gliclazide (Apo-gliclazide, CP-Gliz, Diamicron, Gliclada, Gliclazide Actavis, Glimicron, Glucozide, Glyzyl, Licla, Nidem, Qualizide, Suclear, Sunglizide)

Indikasi : diabetes mellitus tipe 2

Perhatian : lihat catatan tentang sulfonylurea

Kontraindikasi : lihat catatan tentang sulfonylurea

Efek samping : lihat catatan tentang sulfonylurea

Dosis :

Dosis awal 40-80 mg perhari, disesuaikan dengan respon, dapat dinaikan sampai 160 mg satu kali sehari bersama sarapan. Dosis yang lebih tinggi dibagi dalam beberapa kali pemberian, maksimal 320 mg perhari.

Sediaan : Tablet 30 mg, 80 mg

Glimepiride (Amaryl, Diapride, Glimaryl, Glimepiride Sandoz, Glimepiride Stada, Glimeryl, Losucon)

Indikasi : diabetes mellitus tipe 2

Perhatian : lihat catatan tentang sulfonylurea. Pabrik pembuatnya menganjurkan untuk monitor fungsi hati dan hematologi.

Kontraindikasi : lihat catatan tentang sulfonylurea

Efek samping : lihat catatan tentang sulfonylurea

Dosis :

Dosis awal 1 mg perhari, disesuaikan dengan respon, lihat respon dalam 1-2 minggu, dapat dinaikan sampai dosis maksimal 4 mg perhari. Dikonsumsi sebelum makan besar pertama setiap harinya.

Sediaan : Tablet 30 mg, 80 mg

Glipizide (Diasef, Glipizide DHA, Glucotrol XL, Minidiab, Sunglucon)

Indikasi : diabetes mellitus tipe 2

Perhatian : lihat catatan tentang sulfonylurea.

Kontraindikasi : lihat catatan tentang sulfonylurea

Efek samping : lihat catatan tentang sulfonylurea

Dosis :

Dosis awal 2.5 – 5 mg perhari sesaat sebelum sarapan atau makan siang, dosis disesuaikan terhadap respon, maksimal 20 mg perhari. Dosis sampai 15 mg dapat diberikan satu kali sehari, dosis diatas 15 mg diberikan dalam dosis terbagi.

Sediaan : Tablet 2.5 mg, 5 mg

Tolbutamide

Indikasi : diabetes mellitus tipe 2

Perhatian : lihat catatan tentang sulfonylurea.

Kontraindikasi : lihat catatan tentang sulfonylurea

Efek samping : lihat catatan tentang sulfonylurea

Dosis :

Dosis awal 0.5 – 1.5 g perhari satu kali sehari sesaat sesudah sarapan atau makan siang, dosis maksimal 2 g.

Sediaan : Tablet 500 mg

Share on Facebook