Wednesday, October 1, 2014

Cetak Cetak

Anemia Defisiensi Besi

October 17, 2011 by admin · 1 Comment 

Anemia merupakan keadaan dimana hemoglobin di bawah normal. Nilai hemoglobin berubah sesuai dengan umur anak, sehingga penting sekali untuk melihat nilai hemoglobin sesuai dengan kategori umur anak. Sehingga kita jangan membandingkan nilai hemoglobin anak dengan ukuran dewasa, karena seringkali di laboratorium yang digunakan adalah standar dewasa.

Penyebab anemia perlu ditegakan sebelum memulai terapi. Anemia karena defisiensi besi merupakan penyebab anemia tersering karena kekurangan nutrisi di dunia. Menurut laporan WHO megenai anemia 1993-2005, 50% dari penyebab anemia karena defisiensi zat besi. Dalam laporan tersebut dinyatakan 85.1% naka pra sekolah (0-<5 tahun) mengalami anemia. Anemia menjadi masalah kesehatan masyarakat karena meningkatkan risiko kematian ibu dan anak (karena anemia berat) dan hambatan pada perkembangan fisik dan kognitif pada anak dan juga performa kerja pada orang dewasa.

Berikut tabel dari WHO untuk nilai batas anemia :

Untuk nilai yang lebih rinci berdasar umur dapat dilihat pada referensi : Microcytic anemia (table 2).

Apa faktor risiko?

Cadangan besi pada bayi didapat dari ibu terutama pada trimester ketiga kehamilan (>28 minggu), sehingga bayi yang lahir prematur berisiko memiliki cadangan besi yang lebih rendah daripada bayi yang lahir cukup bulan. Perlu diingat adalah kondisi ibu hamil, harus diketahui status Hb ibu hamil, karena Hb yang rendah menjadi risiko perdarahan pada persalinan. Data WHO ibu hamil di Asia tenggara 85.6% mengalami anemia, dan wanita usia produktif yang tidak hamil 85.4% mengalami anemia sehingga penting sekali perempuan usia produktif memeriksa status kesehatan dan Hb mereka.

Faktor risiko  adalah :

Bayi

-          Kondisi kehamilan yang mengakibatkan rendahnya cadangan besi pada bayi :

  • Defisiensi besi pada ibu
  • Tekanan darah tinggi pada ibu hamil dengan pertumbuhan janin terhambat
  • Ibu dengan diabetes melitus

-          Bayi berat lahir sangat rendah, karena :

  • Besi yang diberikan dari ibu sedikit
  • Tumbuh lebih cepat setelah lahir
  • Tidak mendapat asupan besi yang cukup

Anak- remaja :

-          Kekurangan asupan makanan yang kaya zat besi (formula tidak fortifikasi dengan besi, susu sapi sebelum usia 6 bulan, vegetarian, pola diit tidak seimbang pada remaja)

-          Terlalu banyak konsumsi susu sapi

-          Penyerapan besi yang tidak optimal (malabsorbsi di usus, pembedahan lambung, hypochlorrhidia)

-          Peningkatan kebutuhan besi

-          Kehilangan darah

  • Menstruasi
  • Saluran cerna (Enteropathy karena susu, Inflammatory bowel disease, ulkus peptikum, esofagitis karena reflux, cacing tambang, kanker)

-          Gangguan saluran kemih, napas, jantung (Selengkapnya dapat dilihat pada referensi Pediatric Care Online. Iron Deficiency Anemia.)

Cara mengetahuinya :

Gejala yang mengarahkan kepada anemia :

-          Lesu

-          Rewel

-          Nafsu makan menurun

-          Berat badan sulit bertambah

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :

-          Umumnya tidak ada kelainan kecuali pucat pada membran mukosa (konjungtiva mata, gusi, lidah) dan kulit (lipatan telapak tangan), jaringan di bawah kuku (pada orang dengan kulit gelap)

Untuk pemeriksaan penyaring / skreening disarankan oleh American Academy of Pediatric pada saat anak berusia 1 tahun. Bayi yang mendapat ASI eksklusif rentan mengalami defisiensi besi setelah usia 6 bulan karena kecukupan zat besi dari ASI tidak dapat dipenuhi dari ASI saja. Dalam 6 bulan pertama kebutuhan zat besi dapat dipenuhi dari ASI. Pemberian Makanan pendamping ASI yang aya zat besi (food rich iron) disarankan sejak awal masa MPASI.

Untuk menunjang anemia karena defisiensi besi maka diperlukan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan rutin untuk skrining anemia defisiensi besi adalah:

-          Pemeriksaan Hb

-          Pemeriksaan red cell indices (MCV, MCH)

-          Feritin

-          Transferin/TIBC

-          Serum Iron

Pemeriksaan lain yang perlu dipertimbangkan apabila ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis adalah:

- Apusan darah tepi

- CRP

- Analisis hemoglobin

Sangat jarang diperiksa dalam menegakkan diagnosis:

- Kadar timbal dalam darah

-Kadar zink dalam darah

-Kadar vitamin B12

Anemia defisiensi besi dapat menyerupai thalasemia, karena itu diperlukan beberapa pemeriksaan untuk membedakan anemia defisiensi besi dengan thalasemia. Pemeriksaan retikulosit dilakukan untuk membedakan apakah anemia karena akibat perdarahan atau bukan. Hal ini akan membantu bila Hb kurang dari normal tetapi MCV normal. Pemeriksaan CRP akan membantu penterjemahan tes feritin karena feritin akan meningkat juga pada proses peradangan. Untuk mengetahui apakah peningkatan feritin ini diakibatkan peradangan atau karena cadangan besi yang normal maka dapat dibantu dengan CRP. CRP adalah c-reactive protein, penanda peradangan, sehingga bila feritin meningkat bersama dengan peningkatan CRP maka peningkatan feritin belum tentu menunjukan cadangan besi yang cukup.

Hemoglobin yang rendah, MCV yang rendah, apusan darah tepi yang menunjukan mikositik (sel-sel kecil), hipokromik (sel-sel berawrna pucat) dapat mengarahkan kepada talasemia atau anemia defisiensi besi. Pada thalasemia feritin, serum iron dan TIBC dapat normal. Pemeriksaan RDW dapat membantu membedakan anemia defisiensi besi dengan thalasemia. RDW akan meningkat pada anemia defisiensi besi. Petunjuk yang lain adalah indeks mentzer yang didapat dengan membagi MCV oleh jumlah eritrosit dalam juta, hasil >13 akan mengarahkan kepada defisiensi besi.

Peeriksaan tentu didiskusikan bersama dengan dokter. Bila pemeriksaan penyaring anemia dilakukan pada saat anak sehat, mungkin pemeriksaan CRP tidak diperlukan. Status zat besi ditentukan oleh feritin. Serum iron tidak sebagai penanda kadar besi dalam tubuh yang utama karena kadarnya yang memiliki variasi diurnal (pagi dan sore hari), serum iron juga akan memberikan nilai rendah saat peradangan atau penyakit kronik.

Algoritma Anemia Defisiensi Besi

MCV : mean cospuscular volume

RDW : Red blood cell distribution width

TIBC : total iron binding capacity

Tatalaksana

Saat bersamaan juga dilakukan pencarian penyebab anemia. Bila kecurigaan terhadap cacing tambang, atau konsumsi susu sapi yang terlalu banyak sehingga dapat menimbulkan occult bleeding saluran cerna maka diperlukan tes feses lengkap. Bila dipikirkan karena infeksi di tempat lain (kemih, paru) maka diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui sumber infeksi.

Pemeriksaan tambahan ini akan diketahui dari wawancara dan pemeriksaan fisik terhadap orang tua dan anak. Sehingga penyebab anemia dapat diketahui, diatasi dan tidak berulang.

Suplementasi besi dilakukan 2-3 bulan setelah Hb kembali ke nilai normal. Pola makan kaya zat besi harus dilakukan optimal. Monitoring Hb perlu dilakukan 1 bulan setelah terapi suplementasi besi. Peningkatan 1 g/dl menunjukan respon yang baik terhadap terapi suplementasi besi. Bila tidak ada kenaikan maka perlu dievaluasi ulang mengenai diagnosis, cara pemberian suplementasi besi kepada anak.

Sumber :

http://who.int/vmnis/anaemia/data/database/countries/idn_ida.pdf

https://www.pediatriccareonline.org/pco/ub/view/Point-of-Care-Quick-Reference/397190/0/Anemia__iron_deficiency?amod=aapea&login=true&nfstatus=401&nftoken=00000000-0000-0000-0000-000000000000&nfstatusdescription=ERROR:+No+local+token

http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=5143

http://www.mja.com.au/public/issues/193_09_011110/pas10224_fm.html

http://www.rch.org.au/immigranthealth/clinical/Iron_deficiency_and_anaemia/

Share on Facebook

Comments

One Response to “Anemia Defisiensi Besi”
  1. prima says:

    dear Milis Sehat,
    Setelah membaca artikel tentang ADB ini ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan:
    1. Anak pertama saya (5y4m) belum pernah mendapat tambahan zat besi spt ferriz saat dia usia 4bln sampai sekarang. Anak saya ASIX & tidak suka makan daging merah. Berat badannya sejak bayi cenderung kecil, apalagi sejak usia 18bln makannya mulai susah sampai sekarang. Saat ini BB = 17kg, TB = 111cm. Apa yg harusnya saya lakukan untuk anak pertama saya?

    2. Anak ke-2 saya usia saat ini 6bln & belum pernah mendapat supplemen tambahan zat besi, apakah saya bisa langsung memberinya? dengan dosis berapakah?

    Terima kasih banyak untuk informasinya.


*