Monday, October 20, 2014

Cetak Cetak

Kejang Demam

January 8, 2010 by Anto Lucu · 8 Comments 

Kejang Demam

12/28/2006

Apakah kejang demam itu ?

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia < 6 bulan atau > 3 tahun.

Tidak ada nilai ambang suhu untuk dapat terjadinya kejang demam (2). Selama anak mengalami kejang demam, ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki, atau justru disertai dengan kekakuan tubuhnya. Kejang demam ini secara umum dapat dibagi dalam dua jenis yaitu (1,2):

  • Simple febrile seizures : kejang menyeluruh yang berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
  • Complex febrile seizures / complex partial seizures : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).

Risiko berulangnya kejang demam

Simple febrile seizures tidak meningkatkan risiko kematian, kelumpuhan, atau retardasi mental. Risiko epilepsi pada golongan ini adalah 1%, hanya sedikit lebih besar daripada populasi umum. Risiko yang dimiliki hanyalah berulangnya kejang demam tersebut pada 1/3 anak yang mengalaminya. Beberapa hal yang merupakan faktor risiko berulangnya kejang demam adalah (1,2):

  • Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
  • Riwayat kejang demam dalam keluarga
  • Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
  • Riwayat demam yang sering
  • Kejang pertama adalah complex febrile seizure

Risiko berulangnya kejang demam adalah 10% tanpa faktor risiko, 25% dengan 1 faktor risiko, 50% dengan 2 faktor risiko, dan dapat mencapai 100% dengan ≥ 3 faktor risiko.

Penanganan kejang demam

Dalam penanganan kejang demam, orang tua harus mengupayakan diri setenang mungkin dalam mengobservasi anak. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut (2,3):

  • Anak harus dibaringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak.
  • Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas.
  • Jangan memegangi anak untuk melawan kejang.
  • Sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan penanganan khusus.
  • Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain menganjurkan anak untuk dibawa ke fasilitas kesehatan jika kejang masih berlanjut setelah 5 menit. Ada pula sumber yang menyatakan bahwa penanganan lebih baik dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit (4).
  • Setelah kejang berakhir (jika < 10 menit), anak perlu dibawa menemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan leher, muntah-muntah yang berat, atau anak terus tampak lemas.

Jika anak dibawa ke fasilitas kesehatan, penanganan yang akan dilakukan selain poin-poin di atas adalah sebagai berikut (3,4):

  • Memastikan jalan napas anak tidak tersumbat
  • Pemberian oksigen melalui face mask
  • Pemberian diazepam 0,5 mg/kg berat badan per rektal (melalui anus) atau jika telah terpasang selang infus 0,2 mg/kg per infus
  • Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan
  • Sebagian sumber menganjurkan pemeriksaan kadar gula darah untuk meneliti kemungkinan hipoglikemia. Namun sumber lain hanya menganjurkan pemeriksaan ini pada anak yang mengalami kejang cukup lama atau keadaan pasca kejang (mengantuk, lemas) yang berkelanjutan (1).

Berikut adalah tabel dosis diazepam yang diberikan :

Terapi awal dengan diazepam
Usia                Dosis IV (infus) (0.2mg/kg)              Dosis per rectal (0.5mg/kg)
< 1 tahun                              1–2 mg                                                                  2.5–5 mg
1–5 tahun                            3 mg                                                                       7.5 mg
5–10 tahun                          5 mg                                                                       10 mg
> 10 years                             5–10 mg                                                                10–15 mg

Jika kejang masih berlanjut :

    • Pemberian diazepam 0,2 mg/kg per infus diulangi. Jika belum terpasang selang infus, 0,5 mg/kg per rektal
    • Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

Jika kejang masih berlanjut :

    • Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kg per infus dalam 30 menit atau fenitoin 15-20 mg/kg per infus dalam 30 menit.
    • Pemberian fenitoin hendaknya disertai dengan monitor EKG (rekam jantung).

Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan intensif dengan thiopentone dan alat bantu pernapasan.

Perlu tidaknya pemeriksaan lanjutan

Setelah penanganan akut kejang demam, sumber demam perlu diteliti. Dalam sebuah penelitian, sumber demam pada kejang demam antara lain infeksi virus (tersering), otitis media, tonsilitis, ISK, gastroenteritis, infeksi paru2 (saluran napas bagian bawah), meningitis, dan pasca imunisasi.

Beberapa pemeriksaan lanjutan hanya diperlukan jika didapatkan karakteristik khusus pada anak.

Pungsi lumbar (1)

Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi (usia < 12 bulan) karena gejala dan tanda meningitis pada bayi mungkin sangat minimal atau tidak tampak. Pada kejang demam pertama di usia antara 12-18 bulan, ada beberapa pendapat berbeda mengenai prosedur ini. Berdasar penelitian yang telah diterbitkan, cairan serebrospinal yang abnormal umumnya diperoleh pada anak dengan kejang demam yang :

  • Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh : kaku leher)
  • Mengalami complex partial seizure
  • Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam sebelumnya)
  • Kejang saat tiba di IGD (instalasi gawat darurat)
  • Keadaan post-ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.
  • Kejang pertama setelah usia 3 tahun

Pada anak dengan usia > 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.

EEG (electroencephalogram) (1)

EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit (kelainan) neurologis. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi.

Pemeriksaan laboratorium (1)

Pemeriksaan seperti pemeriksaan darah rutin, kadar elektrolit, kalsium, fosfor, magnesium, atau gula darah tidak rutin dilakukan pada kejang demam pertama. Pemeriksaan laboratorium harus ditujukan untuk mencari sumber demam, bukan sekedar sebagai pemeriksaan rutin.

Neuroimaging (1)

Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama kalinya.

Risiko dan keuntungan penanganan jangka panjang

Pemberian obat-obatan jangka panjang untuk mencegah berulangnya kejang demam jarang sekali dibutuhkan dan hanya dapat diresepkan setelah pemeriksaan teliti oleh spesialis (2). Beberapa obat yang digunakan dalam penanganan jangka panjang adalah sebagai berikut.

Antipiretik

Antipiretik tidak mencegah kejang demam (5,6). Penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan dalam pencegahan berulangnya kejang demam antara pemberian asetaminofen setiap 4 jam dengan pemberian asetaminofen secara sporadis. Demikian pula dengan ibuprofen.

Diazepam

Pemberian diazepam per oral atau per rektal secara intermiten (berkala) saat onset demam dapat merupakan pilihan pada anak dengan risiko tinggi berulangnya kejang demam yang berat (2,6). Namun, edukasi orang tua merupakan syarat penting dalam pilihan ini. Efek samping yang dilaporkan antara lain ataksia (gerakan tak beraturan), letargi (lemas, sama sekali tidak aktif), dan rewel. Pemberian diazepam juga tidak selalu efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum diazepam sempat diberikan (5). Efek sedasi (menenangkan) diazepam juga dikhawatirkan dapat menutupi gejala yang lebih berbahaya, seperti infeksi sistem saraf pusat.

Profilaksis (obat pencegahan) berkelanjutan

Efektivitas profilaksis dengan fenobarbital hanya minimal, dan risiko efek sampingnya (hiperaktivitas, hipersensitivitas) melampaui keuntungan yang mungkin diperoleh (5). Profilaksis dengan carbamazepine atau fenitoin tidak terbukti efektif untuk mencegah berulangnya kejang demam. Asam valproat dapat mencegah berulangnya kejang demam, namun efek samping berupa hepatotoksisitas (kerusakan hati, terutama pada anak berusia < 3 tahun), trombositopenia (menurunnya jumlah keping darah yang berfungsi dalam pembekuan darah), pankreatitis (peradangan pankreas yang merupakan kelenjar penting dalam tubuh), dan gangguan gastrointestinal membuat penggunaan asam valproat sama sekali tidak dianjurkan sebagai profilaksis kejang demam.

Dari berbagai penelitian tersebut, satu-satunya yang dapat dipertimbangkan sebagai profilaksis berulangnya kejang demam hanyalah pemberian diazepam secara berkala pada saat onset demam, dengan dibekali edukasi yang cukup pada orang tua. Dan tidak ada terapi yang dapat meniadakan risiko epilepsi di masa yang akan datang (6).

Imunisasi dan kejang demam

Walaupun imunisasi dapat menimbulkan demam, namun imunisasi jarang diikuti kejang demam. Suatu penelitian yang dilakukan memperlihatkan risiko kejang demam pada beberapa jenis imunisasi sebagai berikut (2):

  • DTP : 6-9 per 100.000 imunisasi. Risiko ini tinggi pada hari imunisasi, dan menurun setelahnya.
  • MMR : 25-34 per 100.000 imunisasi. Risiko meningkat pada hari 8-14 setelah imunisasi.

Kejang demam pasca imunisasi tidak memiliki kecenderungan berulang yang lebih besar daripada kejang demam pada umumnya. Dan kejang demam pasca imunisasi kemungkinan besar tidak akan berulang pada imunisasi berikutnya. Jadi kejang demam bukan merupakan kontra indikasi imunisasi.

Sumber

http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics;103/6/e86

dr. Nurul Itqiyah H

Share on Facebook

Comments

8 Responses to “Kejang Demam”
  1. Merry Manafe says:

    Dear Mods

    Apakah dalam kejang demam termasuk normal jika anak terlihat seperti tidak bernapas, muka terlihat mulai putih dan bibir membiru? Pengalaman dengan anak saya yang mengalami KD pertama kali pada usia 20 bulan seperti itu. Sampai saat ini saya masih dilanda ketakutan akan kemungkinan meninggal karena tidak bernapas pada saat KD.

    Namun, saya baca2 di beberapa sumber, dikatakan bahwa KD tidak semenyeramkan itu. Apakah mungkin KD membuat seorang anak meninggal dunia?

    Rgds
    Merry

  2. Pamelia says:

    Mb Merry, keliatannya anaknya mengalami breath holding spell… bisa browse lebih lanjut untuk mempelajarinya

    misalnya disini

    http://kidshealth.org/parent/growth/growing/spells.html

    BR,
    Pam

  3. Rika says:

    Dear Moderator,

    anak saya 2th 2 bulan, tadi malam kejang demam utk pertama kalinya. Sblmnya hanya pilek biasa tdk disertai demam. ttp malam hari mendadak kejang demam, suhu pada saat kejang 38.9. selama kurang lebih 30 menit, mengalami kejang demam berulang. setelah diberi stesolid 5 mg, kejangnya tdk otomatis reda. butuh waktu sekitar 10 menit. apa itu normal pada anak kejang demam? pemeriksaan apa yang harus sy lakukan lebih lajut ya? mohon sarannya.

    regards,
    rika

  4. putri says:

    dear moderator, saya punya anak yg mengalami KD baru 2 hari yg lalu, ini bukan yang pertama bulan januari 2012 lalu pernah kd juga dan waktu kurang lebih umur 2 tahun dia alami kd yg pertama, saya bingung utk pengobatannya dan pencegahannya? apakah karena ayahnya waktu kecil dulu jg sering kd jd menurun ke anaknya ? terima kasih

  5. panca says:

    Dear Moderator

    saya punya anak umur 3.5 tahu,,sebelumnya anakku pernah kejang/ step pd umur 3blnan,,terus pada kemrin sesudah lebaran anakku terkena kembali kejang/step sampai dua kali (wkt magrib & jam 12 malam) smp2 anakku dirawat di RS terdekat…yang perlu saya tanyakan adalah :
    1. dallam penanganan pertama kali yang kita lakukan meletakkan lgs jari kt ke mulutnya untuk menyumpal supaya tidak rapat trs dikasih kecap,,apakah boleh wkt kejang tersebut kita kasih kecap
    2. untuk pengobatan dan pencegahannya apakah harus berobat jalan & harus diperiksa kemana ??
    3. apakah normal pd anak bila telapak tangan / kaki terasa agak panas/hangat karena kt agak terauma bila anak sedikit panas/hangat (karena suhu 39″ anak sy udah kejang)

    Mohon sarannya

    Terima Kasih

    Panca

  6. haris says:

    Dear Moderator,

    anak saya kejang pertama umur 9 bulan dan kejang kedua terulang umur 13 bulan sampai memakai alat bantu pernafasan yang dimasukkan melalui mulut. setelah sadar sampai dokter memperbolehkan anak saya pulang, tetapi keadaan fisik anak saya belum normal seperti mata masih melihat keatas, jari jemarinya masih seperti kaku, lehernya tidak bisa tegap.
    apakah ada obat atau terapi setelah pasca kejang yang akan membuat keadaan anak saya kembali normal?

    Thanks,
    Haris

  7. rossy silaen says:

    dear Moderator

    saya punya anak perempuan sekarang sudah berumur 12,6 tahun
    waktu anak saya berusia 3,5 tahun sering mengalami kejang sampai berumur 4 tahun
    waktu itu saya bawa berobat ke dokter. untuk saat ini keadaan anak saya IQ nya sangat minim, apakah ini pengaruh dari kejang nya dulu, bagaimana cara saya untuk mengatasi keterlambatan di IQ nya, saat ini dia sekolah SD dan blom bisa mengenal huruf.

    mohon sarannya

    terima kasih

    Rossy silaen

  8. Eka Ayu says:

    dear moderator,
    saya pnya anak yg pertama kali kejang usia13 bln lalu berulang 2 bln kemudian,menurut analisa dokter kejang sederhana untuk kejang yg pertama tp yg kedua dokter menyrankan EEG, yg sya mw tanyakan,,apa ada tindakan untuk pencegahan terjadi kembali kejang, lalu apakah ada bahaya sendiri jika mengkonsumsi susu UHT,skrg ank sya usia 2 tahun. terima kasih

    bunda Artha-arka


*