Friday, September 19, 2014

Cetak Cetak

Obesitas

January 11, 2010 by Anto Lucu · Leave a Comment 

OVERWEIGHT DAN OBESITAS PADA ANAK

4/3/2009

Obesitas pada anak telah menjadi salah satu masalah kesehatan paling penting di banyak negara. Dan seiring dengan meningkatnya obesitas, meningkat pula penyakit-penyakit yang terkait dengannya. Karena itu, peran dokter anak dalam mendidik orang tua mengenai obesitas, mengenali obesitas dalam praktik sehari-hari, dan menangani obesitas beserta penyakit yang seringkali menyertainya menjadi sangat penting.

DEFINISI

“Overweight” adalah istilah yang digunakan untuk kelebihan berat badan, sedangkan “obesitas” digunakan untuk kelebihan lemak. Namun, karena tidak ada metode pengukuran lemak tubuh dalam praktik sehari-hari, obesitas diukur melalui perkiraan lemak tubuh secara tidak langsung (antropometri).

Indeks massa tubuh atau body mass index (BMI) adalah ukuran standar yang digunakan untuk anak berusia 2 tahun ke atas. Ukuran lain seperti rasio berat badan terhadap tinggi badan (terutama untuk anak di bawah 2 tahun) atau distribusi lemak (lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap panggul) juga dapat digunakan. Patokan BMI untuk obesitas pada anak bervariasi sesuai jenis kelamin dan usia. Ketika anak mencapai usia dewasa, patokan BMI untuk overweight dan obesitas adalah 25 dan 30.

  • Underweight: BMI kurang dari persentil 5 untuk jenis kelamin dan usia
  • Berat badan normal: BMI antara persentil 5-85 untuk jenis kelamin dan usia
  • Overweight: BMI antara persentil 85 dan 95 untuk jenis kelamin dan usia
  • Obese: BMI persentil 95 atau lebih untuk jenis kelamin dan usia
  • Sangat obese: BMI lebih dari persentil 99 untuk jenis kelamin dan usia

    EPIDEMIOLOGI

Saat ini, sepertiga anak dan remaja di AS termasuk dalam kategori overweight atau obese. Angka overweight pada anak-anak adalah sebagai berikut:

  • 24% anak usia pra sekolah (2-5 tahun)
  • 33% anak usia sekolah (6-11 tahun)
  • 34% remaja (12-19 tahun)

Angka obesitas anak usia sekolah di AS meningkat drastis dari 6.5% di tahun 1976-1980 menjadi 17% di tahun 2003-2006, dan dari 5% menjadi 17.6% di antara remaja. Di usia pra sekolah , angka ini meningkat hampir tiga kali lipat dari 5% menjadi 12.4%.

Angka overweight dan obesitas juga meningkat di berbagai negara di dunia, mencapai lebih dari 30% di Amerika Utara dan Selatan, Inggris, Yunani, Italia, Portugal, dan Spanyol. Negara-negara Skandinavia dan Eropa Tengah memiliki angka yang sedikit lebih rendah, sementara di Rusia dan Eropa Timur angka obesitas dan overweight adalah kurang dari 10%. Di Cina, walaupun angka overweight dan obesitas anak hanya 1/3 dari angka di AS, persentase anak usia pra sekolah yang digolongkan sebagai overweight atau obese lebih besar dibanding AS.

Kemungkinan obesitas anak untuk berlanjut menjadi obesitas di usia dewasa tergantung pada beberapa hal seperti usia, obesitas orang tua, dan derajat obesitas anak tersebut. Dalam satu studi, 25% anak usia pra sekolah yang obese akan terus menjadi obese setelah dewasa, dibanding 50% pada anak usia 6 tahun yang obese dan 80% pada anak usia 10-14 tahun yang obese dengan satu orang tua obese. Memiliki orang tua yang obese meningkatkan risiko obesitas 2-3 kali lipat. Dua hal yang juga sangat penting adalah kebiasaan makan dan aktivitas fisik anak. Anak obese yang memiliki asupan kalori terlalu besar dan aktivitas fisik yang sangat rendah kemungkinan besar akan terus menjadi obese di usia dewasanya. Anak perempuan lebih rentan terhadap obesitas selama masa pubertas. Sekitar 80% anak perempuan yang obese di masa pubertas akan terus menjadi obese, dibanding 30% pada anak laki-laki.

ETIOLOGI

Faktor lingkungan

Hampir seluruh obesitas anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik tingkat aktivitas fisik yang rendah atau asupan kalori yang terlalu besar. Waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi berhubungan langsung dengan angka obesitas anak dan remaja, dan efek ini dapat terus berlanjut ke usia dewasa. Dalam dua studi, waktu menonton televisi pada usia 5 tahun ke atas memiliki korelasi dengan meningkatnya BMI pada usia 26-30 tahun. Satu studi lain menunjukkan bahwa efek televisi terhadap obesitas terutama disebabkan perubahan dalam asupan energi. Mengurangi waktu menonton televisi dan bermain komputer selama 2 tahun pada anak usia 4-7 tahun yang overweight terbukti efektif untuk mengurangi BMI dan asupan energi tanpa perubahan dalam aktivitas fisik. Video game yang memerlukan aktivitas fisik interaktif dari pemainnya, walaupun terbukti meningkatkan pemakaian energi selama permainan, tidak memiliki efek jangka panjang terhadap obesitas dan penggunaannya menurun tajam seiring waktu.

Penelitian juga menunjukkan hubungan antara waktu tidur yang kurang dengan obesitas atau resistensi terhadap insulin. Mekanisme hubungan ini diperkirakan berhubungan dengan perubahan kadar leptin dan ghrelin dalam serum, atau tersedianya waktu yang lebih banyak untuk mengkonsumsi makanan pada anak yang tidur lebih sedikit.

Faktor genetik

Studi yang ada menunjukkan bahwa keturunan berperan dalam 30-50% variasi akumulasi jaringan lemak, namun polimorfisme genetik untuk hal ini belum ditemukan. Beberapa sindrom spesifik dan kelainan gen tunggal yang terkait dengan obesitas anak telah ditemukan. Semua ini adalah penyebab yang sangat jarang untuk obesitas anak, hanya mencakup kurang dari 1% obesitas anak yang dijumpai di pusat-pusat penelitian. Selain obesitas, anak dengan sindrom genetik ini umumnya memiliki temuan karakteristik dalam pemeriksaan fisik.

Faktor endokrin

Faktor endokrin sebagai penyebab ditemukan hanya dalam kurang dari 1% obesitas anak dan remaja, beberapa di antaranya adalah hipotiroid, kelebihan kortisol (penggunaan kortikosteroid, Cushing syndrome), defisiensi hormon pertumbuhan, dan lesi hipotalamus (infeksi, malformasi vaskular, neoplasma, atau trauma). Anak dengan masalah endokrin umumnya berpostur pendek dan/atau mengalami hypogonadism.

Metabolic programming

Akhir-akhir ini telah ditemukan bahwa pengaruh lingkungan dan nutrisi selama masa kritikal dalam perkembangan dapat mempengaruhi predisposisi seseorang untuk menjadi obese atau mengalami penyakit metabolik. Penelitian juga membuktikan adanya hubungan antara berat lahir (sebagai refleksi nutrisi selama kehamilan) dengan diabetes, penyakit jantung, dan obesitas di usia dewasa. Studi lain juga menunjukkan hubungan konsisten antara laju pertambahan berat badan selama masa kanak-kanak dengan obesitas di usia remaja atau dewasa, laju pertambahan yang diinginkan adalah yang moderat. Beberapa faktor endokrin maternal juga mempengaruhi obesitas anak. Dalam satu penelitian, usia menarche yang lebih muda adalah prediktor status obesitas anak. Laju pertumbuhan anak dari ibu dengan menarche di usia muda juga lebih cepat dalam 2 tahun pertama kehidupan.

DIAGNOSIS

BMI adalah perangkat paling efektif untuk mengevaluasi overweight dan obesitas anak. Semua anak usia 2 tahun ke atas harus memperoleh pengukuran tinggi dan berat badan, dan BMI mereka harus dihitung setiap tahun.

Jika BMI lebih dari persentil 85, anak tersebut dikategorikan overweight dan harus dievaluasi untuk penyakit-penyakit yang umum dijumpai bersama obesitas. Jika BMI lebih dari persentil 95, anak tersebut digolongkan sebagai obese dan memiliki risiko signifikan untuk terus menjadi obese di usia dewasa. Jika BMI kurang dari persentil 85, namun menunjukkan kecenderungan peningkatan lebih dari 3-4 unit per tahun dan memotong garis persentil, terutama jika si anak berusia lebih dari 4 tahun, keluarga harus diberikan peringatan mengenai risiko overweight dan tips untuk mempertahankan berat badan yang sehat.

Usia anak saat evaluasi dan pola pertumbuhan dalam keluarga juga harus diperhatikan. Persentil berat badan anak yang saat lahir memiliki persentil di bawah rata-rata untuk keluarganya akan bertambah seiring waktu, dan hal tersebut adalah normal. Namun, kurang dari 5% anak akan memotong 2 kurva persentil ke atas setelah usia 4 tahun, dan anak-anak ini memiliki risiko overweight.

EVALUASI

Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan harus mencakup usia dimulainya overweight dan informasi mengenai kebiasaan makan dan aktivitas fisik anak. Usia dimulainya overweight berguna untuk membedakan antara kelebihan asupan dan penyebab genetik. Penyebab genetik seringkali bermanifestasi sebagai obesitas atau overweight sebelum usia 2 tahun.
Riwayat kebiasaan makan harus mencakup: siapa yang biasanya memberi makan anak; identifikasi makanan yang tinggi kalori dan rendah nutrisi yang dapat dikurangi, dihilangkan, atau diganti dengan makanan lain;
dan evaluasi pola makan (waktu, lokasi, dan isi) karena remaja yang merasa tidak mampu mengontrol konsumsi makanan dalam jumlah besar mungkin mengalami gangguan pola makan (eating disorder).
Riwayat aktivitas fisik harus mencakup: identifikasi adanya hambatan untuk berjalan atau bersepeda ke sekolah; evaluasi waktu yang dihabiskan untuk bermain; evaluasi jam olahraga dan istirahat di sekolah; evaluasi kegiatan setelah sekolah dan akhir pekan; dan evaluasi waktu yang dihabiskan di depan monitor (TV, DVD, games).

Riwayat kesehatan keluarga – Risiko penyakit yang menyertai obesitas sangat dipengaruhi oleh ada tidaknya riwayat penyakit tersebut dalam keluarga. Obesitas orang tua juga merupakan prediktor penting untuk memperkirakan apakah obesitas anak akan berlanjut menjadi obesitas di usia dewasa. Karena itu, riwayat kesehatan keluarga harus mencakup riwayat obesitas dalam keluarga inti, informasi mengenai penyakit yang umum ditemui bersama obesitas seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diebets, penyakit kandung empedu atau hati, dan masalah pernapasan dalam keluarga inti dan famili.

Riwayat psikososial – Riwayat ini harus mencakup depresi; informasi mengenai masalah sekolah dan sosial; dan riwayat merokok karena merokok meningkatkan risiko penyakit jantung dalam jangka panjang.

Pemeriksaan Fisik

Tampilan keseluruhan – Karakteristik dismorfik dapat mengarah pada adanya sindrom genetik. Evaluasi afek dan distribusi lemak juga dilakukan di sini. Distribusi lemak dapat membantu membedakan penyabab obesitas. Kelebihan lemak pada obesitas yang disebabkan asupan berlebihan umumnya ditemukan di aksis tubuh dan perifer, sementara Cushing syndrome dan hypothyroidism umumnya memiliki distribusi lemak di daerah interskapular, wajah, leher, dan aksis tubuh (buffalo type). Obesitas abdominal (central, visceral, android, male-type) berhubungan dengan beberapa penyakit seperti sindrom metabolik, polycystic ovary syndrome, dan resistensi insulin. Pengukuran lingkar pinggang berguna untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko ini.

Takanan darah – Tekanan darah harus diperoleh menggunakan ukuran manset yang tepat, kadang membutuhkan manset dewasa pada remaja yang obese. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko jangka panjang penyakit jantung pada anak yang obese atau overweight, dan hal ini juga dapat merupakan pertanda Cushing syndrome. Tekanan darah tinggi didefinisikan sebagai tekanan darah di atas persentil 95 untuk jenis kelamin, usia, dan tinggi badan pada 3 kesempatan berbeda.

Tinggi badan – Tinggi badan umumnya berguna untuk membedakan obesitas karena faktor lingkungan dari obesitas karena faktor genetik. Obesitas karena faktor lingkungan umumnya juga menyebabkan pertambahan tinggi badan, sementara anak dengan obesitas karena faktor genetik umumnya pendek dibanding teman seusianya.

Kepala, mata, orofaring – Beberapa temuan dalam pemeriksaan fisik dapat memberi petunjuk mengenai penyebab obesitas:

  • Microcephaly dapat ditemukan pada Cohen syndrome
  • Batas diskus optik yang kabur dapat ditemukan pada pseudotumor cerebri (idiopathic intracranial hypertension)
  • Gumpalan pigmen di tepi retina dapat ditemukan pada retinitis pigmentosa pada Bardet-Biedl syndrome
  • Tonsil yang membesar dapat mengindikasikan adanya obstructive sleep apnea
  • Terkikisnya enamel gigi dapat ditemukan pada pasien dengan eating disorder

Kulit dan rambut – Pemeriksaan kulit dan rambut berguna untuk mengevaluasi faktor endokrin atau komplikasi: rambut yang kering, kasar, atau rapuh dapat ditemukan pada hypothyroidism; striae dan ekimosis dapat ditemukan pada Cushing syndrome, namun striae juga dapat merupakan akumulasi lemak jaringan subkutan; acanthosis nigricans dapat ditemukan pada diabetes tipe 2 atau resistensi insulin; hirsutism dapat ditemukan pada PCOS dan Cushing syndrome.

Abdomen – Nyeri perut dapat merupakan pertanda penyakit kandung empedu; hepatomegali dapat merupakan petunjuk fatty liver disease.

Muskuloskeletal – Pemeriksaan ini dapat memberi petunjuk etiologi obesitas atau penyakit yang menyertainya; nonpitting edema dapat ditemukan pada hypothyroidism; postaxial polydactyly (jari tambahan di sebelah kelingking) dapat ditemukan pada Bardet-Biedl syndrome; keterbatasan gerak panggul atau langkah yang abnormal dapat ditemukan pada SCFE; kalus di jari dapat ditemukan pada remaja dengan eating disorder.

Genital dan saluran kemih – Testis yang tidak ditemukan dalam skrotum, penis yang kecil, microorchidism atau skrotum yang hipoplastik dapat mengindikasikan Prader-Willi atau Bardet-Biedl syndrome; pubertas yang terlambat dapat ditemukan pada Cushing, Prader-Willi, dan Bardet-Biedl syndrome.

Perkembangan – Sebagian besar penyebab genetik overweight pada anak juga disertai dengan keterlambatan perkembangan atau kemampuan kognitif. Prader-Willi syndrome juga berhubungan dengan hypotonia dalam tahun pertama kehidupan dan keterlambatan kemampuan motorik kasar.

Pemeriksaan laboratorium – Evaluasi laboratorium untuk overweight dan obesitas anak belum distandarisasi. Beberapa ahli menyarankan gula darah puasa, insulin, profil lipid, dan ALT sebagai pemeriksaan inisial pada anak dengan BMI di atas persentil 95. Ahli lain menyarankan pemeriksaan laboratorium hanya jika hasilnya akan mengubah pilihan penanganan. Defisiensi vitamin D umum ditemukan pada anak dan remaja dengan obesitas. Beberapa studi menunjukkan sekitar setengah dari anak dan dewasa dengan obesitas parah mengalami defisiensi vitamin D, dan hal ini berhubungan dengan BMI yang tinggi dan sindrom metabolik. Namun, bukti yang ada belum cukup untuk merekomendasikan pemeriksaan 25(OH) vitamin D pada semua anak yang obese. Fasting glucose di atas 100mg/dl digolongkan sebagai pra diabetik dan 126mg/dl atau lebih digolongkan sebagai diabetik. Anak dengan kadar fasting glucose yang tinggi harus menjalani glucose tolerance test atau dirujuk ke ahli endokrin. Insulin puasa di atas 17 mikrounit/ml dikategorikan sesuai dengan resistensi insulin. Anak yang obese dengan kadar insulin puasa yang tinggi dan/atau orang tua mereka harus diinformasikan mengenai risiko diabetes mellitus tipe 2 jika kontrol berat badan tidak dapat dicapai. Kolesterol puasa di atas 200mg/dl atau LDL di atas 130mg/dl sesuai dengan hyperlipidemia. Anak obese dengan hyperlipidemia harus terus dimonitor atau diobati karena hyperlipidemia meningkatkan risiko atherosclerosis seiring usia. Trigliserida puasa di atas 150mg/dl pada anak dengan obesitas dikategorikan tinggi dan merupakan tanda awal sindrom metabolik. Tes fungsi hati juga harus diperoleh karena nonalcoholic fatty liver disease umumnya tidak bermanifestasi dengan gejala apapun. Anak obese dengan kadar ALT yang lebih besar dari 2 kali kadar normal selama 3 bulan harus dirujuk pada ahli gastroenterologi untuk evaluasi penyakit kronik hati lainnya. Tes lain mungkin diperlukan jika ada temuan yang konsisten dengan hypothyroidism, PCOS, Cushing syndrome, atau sleep apnea.

Evaluasi radiografik – Pemeriksaan radiografik yang perlu dilakukan tergantung pada temuan dalam riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik. X-ray panggul dan tungkai bawah perlu dilakukan jika ada kecurigaan slipped capital femoral epiphysis (nyeri panggul atau lutut) atau Blount disease (tibia yang melengkung). Ultrasonografi abdomen mungkin diperlukan jika ada kecurigaan batu saluran empedu (nyeri perut, level transaminase yang abnormal). Ultrasonografi abdomen juga dapat digunakan untk mengevaluasi fatty liver, namun derajat penyakit tidak berkorelasi dengan temuan ultrasonografi.

INDIKASI RUJUKAN

Anak dengan penyakit yang sering menyertai obesitas yang membutuhkan penurunan berat badan secepatnya harus dirujuk ke fasilitas yang menangani obesitas anak secara khusus (pengaturan pola makan, terapi farmakologi, atau terapi bedah). Penyakit-penyakit yang membutuhkan rujukan lain adalah sebagai berikut:

  • Pseudotumor cerebri: juga membutuhkan rujukan ke neurologi
  • Sleep apnea: juga membutuhkan rujukan ke pulmonologi\
  • Sliped capital femoral epiphysis: juga membutuhkan rujukan ke bedah ortopedik
  • Batu saluran empedu, nonalcoholic fatty liver disease, diabetes mellitus tipe 2, PCOS: juga membutuhkan rujukan ke gastroenterology atau endokrinologi
  • Anak overweight yang mengalami depresi atau menunjukkan tanda-tanda gangguan pola makan: juga membutuhkan rujukan ke psikiatri

Kelompok lain yang membutuhkan rujukan adalah anak overweight yang berusia kurang dari 2 tahun, dan anak dengan obesitas yang sangat berat (super obesity, BMI >40) walaupun mereka tidak mengalami penyakit lainnya.

SUMBER INFORMASI

Beberapa sumber informasi yang bermanfaat bagi keluarga dengan anak overweight/obese atau yang ingin menghindari masalah tersebut adalah sebagai berikut:

  • The Maternal and Child Health Library Knowledge Path (mchlibrary.info/KnowledgePaths/kp_overweight.html)
  • The American Academy of Pediatrics (aap.org/obesity)
  • The Centers for Disease Control and Prevention (cdc.gov/nccdphp/dnpa/obesity)
  • Produce for Better Health Foundation (5aday.com)
  • The Child Care Nutrition Resource System (nal.usda.gov/childcare/)
  • Weight Control Information Network (win.niddk.nih.gov/index.htm)

Oleh : dr.Nurul
Diterjemahkan dan diedit dari:
http://www.utdol.com/

dr. Nurul

Share on Facebook


*