Wednesday, September 3, 2014

Cetak Cetak

Ketika Ibu Menyusui Sakit

August 9, 2010 by windhi kresnawati · Leave a Comment 

Bahwa ibu yang sakit harus berhenti menyusui adalah hal yang sangat jarang terjadi. Hanya ada beberapa penyakit yang cukup serius yang menyebabkan seorang ibu harus berhenti menyusui dalam jangka waktu tertentu atau berhenti secara permanen. Dari Dr. Ruth Lawrence, “Hanya penyakit menular seperti HIV dan HLTV-1 saja yang dianggap sebagai kontraindikasi absolut untuk menyusui di negera maju” (Lawrence & Lawrence 2001).

Jika mengalamai penyakit “biasa” seperti batuk pilek, sakit tenggorokan, flu, sakit perut, demam, mastitis, dan yang lainnya, ibu harus tetap menyusui. Ingatkan dokter anda bahwa anda sedang menyusui, sehingga ketika dokter perlu meresepkan obat, obat yang diresepkan adalah yang dapat diminum untuk kondisi menyusui. Kebanyakan obat bersifat aman untuk dikonsumsi pada saat menyusui, dan untuk obat-obat yang tidak bisa direkomendasikan, hampir selalu ada alternatif obat yang aman.

Ketika seorang ibu mengalami keracunan makanan, makan proses menyusui harus tetap berjalan. Selama gejalanya terbatas pada sistem gastrointestinal (muntah, diare, kram perut), menyusui tetap berlanjut tanpa interupsi karena tidak ada resiko buat bayi. Kasus tersebut adalah yang paling sering terjadi pada saat keracunana makanan. Jika keracunan makanan berlanjut ke septicemia, dalam artian bakteri telah masuk ke dalam jalan darah sang ibu (kemungkinannya adalah sang ibu masuk rumah sakit), berikut pedoman yang dari Dr. Ruth Lawrence:

“Infeksi pada sistem genitourinary (sistem reproduksi dan saluran kemih) dan gastrointestinal (perut dan usus) pada ibu menyusui tidak menimbulkan resiko pada bayinya, kecuali pada keadaan – yang jarang terjadi – septicemia, di mana bakteri bisa ‘mencapai’ air susu ibu. Bahkan dalam keadaan tersebut, ibu yang terus menyusui setelah mendapatkan terapi antibiotik yang sesuai dan kompatibel dengan keadaan ibu yang sedang menyusui tersebut merupakan tindakan yang paling aman bagi bayinya. Jika ibu terinfeksi organisme yang berbahaya dan sangat menular (contoh: Infeksi invasif dari grup A streptococcal yang dapat menyebabkan penyakit yang hebat pada ibu), proses menyusui dilanjutkan setelah penundaan sementara selama 24 jam pertama sejak terapi (pengobatan) diberikan pada ibu. Dapat diindikasikan juga untuk melakukan terapi empiris dan terapi prophylactic (pecegahan) pada bayi, untuk pencegahan pada organisme yang sama.” [sumber: Lawrence RM & Lawrence RA. Given the Benefits of Breastfeeding, what Contraindications Exist? Pediatric Clinics of North America 2001 (February);48(1): 235-51.]

Hal yang paling baik bagi ibu menyusui pada saat sakit adalah tetap melanjutkan proses menyusui. Ketika ibu terkena penyakit menular seperti batuk pilek (cold), flur, atau penyakit karena virus ringan lainnya, Bayi anda sudah terpapar penyakit tersebut sebelum anda menyadara kalau anda sakit. Air susu ibu (ASI) tidak akan membawa penyakit tersebut kepada bayi, tapi justru memiliki antibodi terhadap penyakit yang sedang dialami  oleh sang ibu (ditambah yang lain di mana anda atau bayi anda terpapar oleh penyakit lainnya) – ASI akan membantu mencegah terkenanya bayi pada penyakit, atau jika si bayi sakit, mungkin tidak separah seperti yang dialami sang ibu)

Menunda pemberian ASI pada saat ibu sakit akan meningkatkan kemungkinan bayi menjadi sakit, dan menghilangkan rasa nyaman dan pemberian nutrisi unggul yang didapatkan oleh bayi pada saat menyusui.

Anda juga dapat mempertimbangkan untuk melakukan hal-hal yang umum dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit supaya bayi pun dapat tercegah dari penyakit, seperti: sering mencuci tangan, menghindari batuk/bersin di dekat bayi, mengurangi kontak face-to-face, dsb.

Ketika anda sakit, akan sangat membantu jika bayi dibaringkan di tempat tidur di sebelah anda, di mana ibu dapat menyusui dengan berbaring ketika sang bayi merasa lapar.

Sering terjadi ibu tidak menyusui cukup sering dan juga tidak mendapatkan cukup cairan untuk menjaga suplai ASI yang dimiliki. Kadang-kadang, obat juga dapat menyebabkan suplai ASI berkurang. Untuk mencegah menurunnya suplai ASI, ibu harus mimum banyak cairan untuk mencega dehidrasi, sering menyusi, atau mencega/membatasi konsumsi obat (seperti antihistamines) yang cenderung dapat mengurangi suplai ASI.

Infeksi Virus Hepatitis B

Apakah aman bagi seorang ibu yang terinfeksi virus hepatitis B (HBV) untuk langsung menyusui bayinya setelah lahir?

Ya. Bahkan sebelum adanya vaksin hepatitis B, tidak pernah ada laporan mengenai penularan HBV melalui proses menyusui. Bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi HBV harus segera mendapatkan immune globulin Hepatitis B dan dosis pertama vaksin hepatitis B dalam waktu 12 jam setelah kelahiran. Vaksin dosis kedua harus diberikan pada usia 1-2 bulan, dan dosis ketiga pada umur 6 bulan. Setelah itu, dilakukan tes pada bayi di usia 9-18 bulan, untuk mengetahui apakah vaksin yang diberikan bekerja, dan apakah bayi tidak terinfeksi HBV, yang terpapar melalui darah si ibu pada saat proses melahirkan. Namum demikian, tidak perlu dilakukan penundaan pemberian ASI hingga bayi terimunasi secara penuh. Semua ibu yang menyusui harus menjaga puting susunya supaya tidak mengalami lecet atau berdarah.

Infeksi Virus Hepatitis C

Apakah aman bagi seorang ibu yang terinfeksi virus hepatitis C (HCV) untuk menyusui bayinya?

Ya. Tidak ada bukti tercatat yang menyatakan bahwa proses menyusui dapat menularkan HCV. Oleh karena itu, infeks-HCV bukan kontraindikasi untuk menuyusui. HCV ditularkan melalui darah yang terinfeksi, bukan air susu ibu. Tidak ada data yang mengacukan bahwa HCV ditularkan melalui air susu ibu.

Apakah aman bagi ibu yang positif HCV untuk menyusui jika puting mengalami lecet atau berdarah?

Tidak terdapat data yang cukup untuk mengatakan aman atau tidak. Namum, HCV ditularkan melalui darah yang terinfeksi. Oleh karena itu, jika ibu yang positif HCV mengalami lecet atau pendarahan pada puting/daerah sekitar areola, maka si ibu tersebut sementara harus berhenti menyusui. Si ibu juga harus mempertimbangkan untuk memerah dan membuang ASI-nya sampai putingnya sembuh. Begitu panyudaranya tidak lagi lecet atau berdarah, maka ibu dengan HCV tersebut dapat kembali menysui sang bayi.

Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan  Acquired Immunodeficiency Virus (AIDS)

Apakah ibu dengan infeksi HIV boleh menyusui bayinya?

Tidak. Kebijakan dari CDC di Amerika Serikat bagi ibu dengan infeksi HIV adalah tidak boleh menyusui bayinya.

Referensi: HHS. Blueprint for Action on Breastfeeding. 2000 , pp 12-13.

Apakah wanita yang terpapar HIV di masa kehamilannya atau pada saat melahirkan boleh menyusui bayinya.

Tidak. Di Amerika Serikat, CDC merekomendasikan bagi ibu yang terinfeksi tersebut untuk tidak menyusui bayiinya untuk menghindari transmisi postnatal dari HIV-1 kepada bayinya melului ASI. Rekomendasi ini juga harus diikuti oleh ibu yang sedang mendapatkan terapi aniterotroviral.  Jalan obat atriretoviral melalui ASI telah dievaluasi hanya pada beberapa obat antiretroviral. Obat seperti ZDV, 3TC, dan niverpine telah terdektsi ditemukan dalam ASI ibu.

Informasi mengeni transmisi HIV ibu-anak dapat dilihat di AIDSinfo’s Maternal-Child Transmission .

Apakah ada tindakan pencegahan dalam mejaga ASI?

Tidak diperlukan tindakan khusus dalam memerah ASI, maupun tindakan khusus untuk permberian label pada ASI. ASI tidak dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya (biohazard).  Pencegahan umum untuk mencegah transmisi virus HIV, Hepatitis B, atau transmisi patogen lainnya melalui jalur dalah tidak berlaku untuk ASI.

Toxoplasmosis

Apakah ibu dapat terus menyusui anaknya ketika ibu mengalami infeksi toxoplasmosis pada masa kehamilan?

Ya. Bagi ibu yang sehat, sangat kecil kemungkinannya terjadi transmisi Toxoplasmosis melalui ASI. Walaupun infeksi Toxoplasmosis pada bayi dikaitkan dengan konsumsi susu kambing yang tidak mengalami proses pasteriusasi, tidak ada hasil studi yang mendokumentasikan bahwa ASI dapat menyalurkan Toxoplasmosis gondii. Boleh jadi, pada saat ibu menyusui mengelami luka atau lecet pada panyudaranya, dan peradangan pada panyudaara selama satu atau dua minggu dan diikuti dengna infeksi Toxoplasmosis akut (ketia organimsa masih beredar pada jalur darah ibu), maka – secara teori – ada kemungkinan terjadinya transmisi Toxoplasma gondii dari ibu ke anak melalui ASI. Ibu dengan imunitas yang rendah dapat mengerdarkan Toxoplasma untuk perioda yang lebih lama. Namum demikian, kemungkinan transmisi virus ini melalui ASI sangatlah kecil.

Malaria

Apakah malaria dapat ditularkan melalui ASI?

Tidak. Namum demikian, ibu menyusui yang berencana untuk melakukan perjalanan ke daerah geografis di mana malaria adlaha penyakit yang lazim, diharusukan untuk melakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi resiko terinfeksi dengan mengeikuti standard pencegahan yang berlaku. Juga, ibu menyusui harus membersihkan cairan pencegah serangga (insect repellents) secara seksama dari tangan maupun kulit panyudara sebelemu menggendong dan menyusui bayi atau anak.

Apakah obat antimalaria menggangu proses menyusui?

Ibu menysui yang melakukan perjalanan ke daerah yang endemis malaria harus mengikutan standar rekomendasi dosis pemberian obat antimalaria yang tepat, berdasarkan negara mana yang mereka kunjungi. Untuk daftar penggunana obat antimalarial, dapat meleihatnya di  CDC’s Yellow Book Chapter 4: Malaria, Table 4–9. (RK)

Share on Facebook


*